Featured post

Pengobatan Hepatitis B Kronis Alami dan Aman

Penyakit hepatitis B merupakan salah satu penyakit hati kronis yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja tanpa kenal usia, mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa, lansia, bahkan hingga ibu hamil dan ibu menyusui pun bisa mengalami penyakit hepatitis b.

Untuk pengobatannya, kini telah banyak produk kesehatan yang ditawarkan, namun salah satu obat herbal hepatitis terlaris yang kini menjadi pilihan masyarakat Indonesia adalah obat hepatitis b kronis QnC Jelly Gamat. Alasannya, karena herbal ini telah terbukti aman, berlegalitas, serta halal dan juga aman dikonsumsi oleh semua kalangan usia. Kami memberikan sistem pelayanan menarik untuk anda yaitu “KIRIM BARANG, SETELAH BARANG SAMPAI, BARU TRANSFER PEMBAYARAN”

Penyebab dan Gejala Penyakit Hepatitis

penyebab dan gejala hepatitis b

Penyakit hepatitis ditandai dengan hilangnya nafsu makan, mual dan muntah, sakit kuning (dilihat dari kulit dan bagian putih mata yang menguning), gejala yang mirip dengan pilek, seperti lelah, nyeri badan dan sakit kepala. Namun, pada sebagian orang gejala penyakit hepatitis b tidak muncul sehingga mereka tidak menyadari bahwa telah terkena infeksi.

Penyakit hepatitis dapat ditularkan melalui kontak seksual, berbagi jarum suntuk, kontak dengan jarum suntik secara tidak sengaja, dan dari ibu hamil yang mengidap hepatitis sehingga menular pada bayi yang dikandungnya.

Pengobatan Hepatitis B Kronis Alami dan Aman

mengobatihepatitisbkronis-qnc jelly gamat

Qnc Jelly Gamat merupakan salah satu solusi pengobatan hepatitis masa kini yang dibuat dari bahan-bahan alami yaitu dari 100% ekstrak teripang laut yang dipadukan dengan bahan alami lain seperti buah dan sayur, sweetener stevia, pengemulsi nabati, air RO dan Essen natural. Perpaduan bahan alami tersebut bertujuan untuk menghindari pemakaian obat kimia yang berbahaya. Bahan-bahan alami ini juga berfungsi untuk melembutkan, menghiangkan bau amis dari teripang, membentu tekstur dan rasa. Sehingga produk lebih awet dan mudah dikonsumsi (dijamin 0% kimia).

QnC Jelly Gamat diproduksi oleh sebuah perusahaan asal Indonesia yaitu CV. Jogja Natural Herbal. Bahan utama yang digunakan obat hepatitis b kronis adalah teripang fres atau segar yang di ambil dari perairan terbaik Indonesia yaitu Sulawesi, Bangka Belitung dan Manado, sehingga kualitas teripang tetap terjaga dan telah memiliki standar terbaik untuk dijadikan obat herbal hepatitis b.

Tidak perlu khawatir mengenai keamanan produk kesehatan ini, karena QnC Jelly Gamat telah terdaftar di Lembaga Kesehatan DEPKES P-IRT No: 109321601291-1229 dan BPOM TR 173301471 serta telah bersertifikat HALAL dari MUI. Sehingga terbukti aman untuk dikonsumsi dan dipercaya ampuh menyembuhkan keluhan kesehatan terutama pada organ hati seperti hepatitis, sirosis hati, dll.

teripang

Teripang yang menjadi bahan dasar pembuatan obat hepatitis b QnC Jelly Gamat telah diteliti oleh berbagai ahli kesehatan dengan keahliannya masing-masing dan menujukkan teripang mampu membantu mendetoksifikasi racun dalam hati, karena didalamnya terdapat kandungan vitamin B riboflavin dan niasin yang baik untuk membersihkan organ hati.

Tidak hanya itu, teripang juga dikenal dengan kandungan gamapeptidenya yang bermanfaat untuk mencegah inflamasi atau peradangan, mengurangi rasa sakit, 3 kali mempercepat proses penyembuhan luka, mengaktifkan pertumbuhan dan sel-sel dalam tubuh, membuat kulit lebih muda, meningkatkan kecantikan kulit, menstabilkan emosi, serta memelihara sirkulasi darah tetap lancar.

Sedangkan berdasarkan hasil penelitian di beberapa Universitas Malaysia, ditemukan bahwa teripang emas atau gamat gold (stichopus variegatus) sangat berkhasiat dan baik digunakan sebagai obat serbaguna dan sebagai antiseptik alami. Hal ini dikarenakan, berdasarkan hasil peneltian teripang memiliki kandungan protein 86.8%, kolagen 80.0%, mineral, mukopolisakarida, glucosamine dan chondroitine, antiseptik alami, glucosaminoglycans (GAG’s), saponin, omega 3, 6 dan 9, asam amino, lektin, vitamin dan mineral.

Ditambah pernyataan dari hasil penelitian juga menujukkan, teripang memiliki kandungan senyawa Cell Growth Factor yaitu faktor regenerasi sel sehingga mampu merangsang regerenerasi atau pemulihan sel dan jaringan tubuh manusia yang telah rusak dan bahkan membusuk. Sehingga menjadi pulih kembali dan sehat. Hal ini terbukti, ketika QnC Jelly Gamat diberikan pada penderita luka diabetes yang menunjukan hasil kesembuhan terhadap luka yang dioleskan dengan menggunakan QnC Jelly Gamat.

QnC Jelly Gamat, bukan hanya bisa menyembuhkan luka di daerah luar kulit saja, namun juga luka peradangan yang terjadi oleh infeksi bakteri, virus, dan penyebab penyakit lainnya.

Karena itulah kami merekomendasikan QnC Jelly Gamat sebagai obat hepatitis b kronis untuk anda. Bukan hanya aman untuk orang dewasa namun juga untuk semua usia termasuk ibu hamil dan menyusui. Bagi anda yang berminat, silahkan kirimkan format pemesanannya dengan melalui SMS, BBM atau pun Whatsapp dengan mencantumkan kode produk EASJG dalam setiap pemesanan anda. Berikut dibawah ini contoh format pemesanan obat herbal hepatitis b.

CARA PEMESANAN VIA SMS DAN BBM

[Kode Produk] : Jumlah pesanan: NAMA: Alamat Lengkap: No. Hp/tlpn Anda
Contoh
EASJG: 10 botol: Yasinta Sintia : Jl. Tentara pelajar No. 50 Tasikmalaya: 085.223.944.949
KIRIM KE
Via SMS: 085.316.695.777
Via BBM: PIN BB 53227614
Tlp: 0265-339207
Whatsapp: +6852-2394-4949
#EASJG adalah kode produk pemesanan yang harus anda cantumkan dalam setiap pemesanan anda. Agar dapat terdeteksi oleh komputer admin kami dan pemesanan anda dapat segera kami proses.

DAFTAR HARGA QnC JELLY GAMAT

Pembelian Harga Ongkir Discount Total
1 Btl 155.000 JNE 0 155.000
4 Btl 620.000 JNE 20.000 600.000
9 Btl 1.395.000 JNE 63.000 1.332.000
10 Btl 1.155.000 JNE 100.000 1.450.000

Transfer Pembayaran

Setelah barang yang anda terima anda di haruskan membayar melalui rekening di bawah ini :

Bank BCA KCU Tasikmalaya
No. Rekening : 054-0606-196
Atas Nama : Aryanto

Bank BRI Cab. Tasikmalaya
No. Rekening : 0100-01-054862-50-5
Atas Nama : Aryanto

Bank BNI KC Tasikmalaya
No.Rekening : 0226098704
Atas Nama : Aryanto

Bank Mandiri KCP Tasikmalaya
No. Rekening : 131-00-0994255-0
Atas Nama : Aryanto

Bank CIMB Niaga Cab. Tasikmalaya

No. Rekening : 439-01-01029-11-8
Atas Nama    : Aryanto

Bank Mega Tasikmalaya
No. Rekening : 011380020392863
Atas Nama : Aryanto

Bank BJB Tasikmalaya
No. Rekening : 0077891218100
Atas Nama : Aryanto

Setelah anda transfer ke rekening diatas silahkan konfirmasi pembayaran ke no. 085.316.695.777
Semua rekening BANK beratas namakan Aryanto, selain nama tersebut itu berarti bukan pada agen kami.

Peringatan !

  • Jangan transfer pembayaran selain ke rekening atas nama ARYANTO !
  • Anda tidak perlu khawatir order online, karena semua pengiriman BISA DILACAK statusnya secara online melalui website jasa pengiriman JNE di jne.co.id
  • Simpanlah dengan baik NO RESI yang kami kirimkan via SMS untuk mengetahui status paket anda
  • Jika kami kirim no resi hari ini maka baru bisa di CEK STATUSNYA BESOK SORE/LUSA.
  • Batas Transfer Pembayaran setelah barang sampai maksimal 3 hari, bila lebih dari 3 hari anda tidak kunjung membayar maka dengan sangat berat hati anda akan terkena sanksi PASAL 5 BAB III NO.8 TH 1999 Tuntutan Hukum pidana dan dendaan atas langgaran tidak memenuhi kewajiban konsumen. Selain itu kami akan memasukan nama, alamat serta no hp anda dalam daftar “Orang Tidak Mau bayar” di 150 website kami.
  • Kini saatnya belanja dengan cara CERDAS! tidak perlu repot bepergian, cukup SMS & konfirmasi transfer, paket dikirim ke alamat anda.
  • Bagi anda yang berdomisili di Tasikmalaya Jawa Barat kami siap antar barang di tempat atau COD (Cash On Delivery).

 

TOLONG SEGERA TRANSFER PEMBAYARAN SETELAH BARANG DI TERIMA

*Obat Hepatitis B Kronis*

Advertisements

Hepatitis D – Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Hepatitis D adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus hepatitis D atau yang disebut dengan Delta Virus. Virus ini akan mengakibatkan terjadinya radang sendi pada bagian hati. Infeksi hepatitis D bisa terjadi sebagai co-infeksi, yang artinya dapat terjadi bersamaan dengan infeksi hepatitis B. Pada virus ini merupakan salah satu dari beberapa jenis virus hepatitis yang menyebabkan peradangan dan juga bisa mempengaruhi pada kemampuan hati untuk berfungsi.

hepatitis d

Hepatitis D merupakan salah satu jenis penyakit dari 5 jenis hepatitis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Pada setiap penyakit hepatitis memiliki metode serta gejala yang berbeda-beda. Tetapi untuk hepatitis D, penyakit ini akan membutuhkan virus hepatitis B untuk menjangkiti sel hati. Pada penularannya dapat ditempuhi dengan dua cara, yaitu infeksi yang bersamaan dengan cara simultan hepatitis B dengan hepatitis D (koinfeksi), dan infeksi virus hepatitis D pada individu yang telah mengalami infeksi hepatitis B sebelumnya (superinfeksi).

Hepatitis D dapat menimbulkan penyakit akut ataupun kronis. Untuk hepatitis D akut akan terjadi secara tiba-toba dan dapat menimbulkan gejala yang lebih hebat dibandingkan dengan hepatitis D kronis. Apabila infeksi hepatitis D terjadi selama 6 bulan atau lebih, maka infeksi yang terjadi termasuk infeksi kronis. Gejala yang akan timbul akan bertambah parah secara perlahan. Biasanya virus akan menetap di tubuh selama beberapa bulan sebelum terjadi gejala yang pertama muncul. Sehingga semakin lama infeksi hepatitis D terjadi, maka akan beresiko terjadi komplikasi yang diakibatkan penyakit menjadi semakin tinggi.

Gejala Hepatitis D

Gejala hepatitis D dapat serupa dengan gejala hepatitis B, sehingga akan sulit bagi dokter untuk menentukan diagnosis penyakit dari gejala yang terjadi pada seseorang. Pada umumnya gejala HDV akan muncul terjadi seperti :

  • Hilangnya nafsu makan
  • Mual dan muntah
  • Rasa lelah
  • Nyeri pada bagian hati (sisi kanan atas perut)
  • Nyeri pada otot dan sendi
  • Kulit dan mata berubah menjadi kuning
  • Urine berubah menjadi gelap

Pada seseorang yang terinfeksi HDV pada waktu dewasa, maka bisa dipulihkan sebelumnya, meskipun terdapat tanda-tanda yang bersifat parah.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Lalu apa penyebab dari hepatitis D?

HDV yang ditularkan dengan melalui suntikan jarum seperti narkoba atau medis yang tidak steril atau atau dipakai secara bersamaan. Pada virus ini dapat ditularkan dengan melaui paparan darah atau caian tubuh lainnya yang sudah terinfeksi, seperti urine, air mani, sekresi vagina, darah dan persalinan (ibu yang mengidap hepatitis D pada bayi baru lahir).

Tetapi perlu diingat bahwa, seseorang yang terkena penyakit hepatitis D apabila telah menderita penyakit hepatitis B sebelumnya. Jika terinfeksi HDV dan HBV pada saat bersamaan. Menurut salah seorang peneliti, sekitar 5% penderita hepatitis B akan terkena hepatitis D.

Ada beberapa faktor yang bisa meningkatkan resiko seseorang terkena hepatitis D, diantaranya :

  • Menderita hepatitis B.
  • Seringnya menerima transfusi darah.
  • Melakukan hubungan seks sesama jenis, terutama pria.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang yang melalui jarum suntik, seperti heroin.

Diagnosis penyakit hepatitis D

Untuk memastikan diagnosis penyakit hepatitis D, maka biasanya dokter menyarankan untuk melakukan tes darah guna untuk mendeteksi keberadaan virus hepatitis dalam tubuh, dan apakah terdapat antibodi di dalam tubuh. Sehingga tes darah dapat membantu untuk memulai pengobatan ataupun menganjurkan perubahan gaya hidup yang bisa memperlambat pada proses kerusakan hati.

Apakah hepatitis D dapat diobati?

Sampai sekarang masih belum ada pengobatan yang dapat memuaskan untuk hepatitis D. Namun melakukan diagnosis dini sangat penting untuk mencegah terjadinya kerusakan hati. Interferon-alpha merupakan satu-satunya obat yang dapat menunjukkan efek terapi pada penyakit tersebut. Pengobatan dengan menggunakan interferon dilakukan dengan cara menyuntikkan pada setiap minggu dan juga dapat berlangsung selama kurang lebih 12 hingga 18 bulan. Tetapi meskipun demikian, terkadang setelah melakukan pengobatan selesai, maka penderita dapat memberikan hasil positif pada pengetesan virus HDV. Selanjutnya untuk pendekatan akhir guna untuk menghilangkan hepatitis D yaitu dengan menghilangkan hepatitis B. Apabila hepatitis B masih positif, maka hepatitis D masih infeksius.

Pencegahan Hepatitis D

Melakukan pencegahan hepatitis D adalah dengan cara mencegah terjadinya hepatitis B. Untuk menghindari terjadinya penyakit hepatitis B, maka dapat dilakukan dengan melakukan langkah-langkah pencegahan yaitu sebagai berikut :

1. Lakukan vaksinasi. Pada orang dewasa yang beresiko tinggi terkena penyakit hepatitis D harus melakukan vaksinasi. Biasanya vaksinasi akan diberikan dalam rangkaian tiga suntikan per enam bulan. Serta pastikan juga harus menggunakan jarum steril setiap melakukan penyuntikkan obat.

2. Berhati-hati ketika melakukan tato dan tindik pada tubuh. Jika berniat untuk ditindik atau di tato, pastikan peralatannya steril.

3. Gunakan kondom jika melakukan hubungan seksual, kecuali jika anda yakin bahwa pasangan tidak mengalami infeksi hepatitis atau infeksi menular seksual lainnya.

| Hepatitis D – Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Definisi Tes Viral Load Hepatitis yang Perlu Anda Ketahui

Apabila Anda sedang menjalani pengobatan infeksi virus hepatitis C (HCV), maka dokter akan memantau dengan dengan melalui tes viral load. Viral load merupakan jumlah virus tertentu yang terdapat didalam darah. Untuk informasi lebih lengkap, simak dibawah ini.

tes viral load hepatitis

Apa itu tes viral load?

Viral load hepatitis adalah jumlah dari partikel virus hepatitis yang terdapat dalam per 1 ml/1cc volume darah. Dalam sejumlah partikel virus tersebut merupakan salinan genetik virus yang beredar pada seluruh tubuh. Adanya jumlah virus didalam darah bisa bervariasi pada setiap orangnya yang terkena infeksi, tetapi hal ini bukanlah indikator prognostik yang dapat membantu dan tidak mengukur pada tingkat keparahan penyakit hati akibat virus. Dengan melakukan tes viral load tersebut, maka bisa digunakan untuk memantau pada tingkat keberhasilan dari pengobatan hepatitis yang telah dilakukan dan menjadi suatu keputusan perawatan kesehatan dimasa depan.

Kapan tes viral load diperlukan?

Setelah memulai pengobatan, maka dokter akan menganjurkan tes lanjutan guna untuk mengevaluasi pada pengobatan yang sedang dijalani. Selain itu juga, tidak diperlukan untuk melakukan tes ulang karena viral load tidak memberikan informasi mengenai gejala dan juga fungsi hati. Namun pada tes hati lainnya seperti biopsi maka bisa memberikan informasi tersebut.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Lalu siapa saja yang harus melakukan tes viral load?

Terdapat beberapa kelompok yang lebih rentan mengalami infeksi HCV, seperti :

  • Anak yang terlahir dari ibu yang positif HCV
  • Pasien dialisis (cuci darah)
  • Orang yang terkena kontak darah seseorang yang terinfeksi hepatitis C

Viral load dapat memberikan hasil “tidak terdeteksi”, yang artinya memiliki istilah berbeda dengan kata “negatif”, tergantung dari tes yang digunakan. Apabila hasilnya negatif yaitu mungkin tidak terdapat virus hepatitis C didalam darah. Tetapi bisa juga terdapat virus hepatitis C, namun dengan jumlah yang sangat rendah dari batas deteksi tes tersebut, sehingga disebut dengan tidak terdeteksi.

Baca juga :

Sedangkan jika hasil dari tes positif, dan lab juga menentukan jumlah virus didalam darah, maka sangat penting untuk mencatat tidak hanya pada jumlah virus tetapi jga satuan yang menyertainya. Pada beberapa infeksi lainnya, jika semakin tinggi viral load, maka akan semakin parah juga penyakit yang diderita, bahkan tidak berlaku pada hepatitis C. Viral load didalam hepatitis C tidak akan memiliki kaitannya pada tingkat keparahannya. Akan tetapi viral load tersebut akan menunjukkan seberapa efektifkah dari pengobatan tersebut. Jika semakin rendah viral load, maka akan semakin tinggi peluang pada pengobatan Anda.

| Definisi Tes Viral Load Hepatitis yang Perlu Anda Ketahui

Ketahui Penyebab Dari Penderita Hepatitis Mengalami Hipertensi

Hepatitis dan hipertensi merupakan dua kondisi kesehatan yang cukup banyak dialami oleh kalangan masyarakat Indonesia. Tetapi pada kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang berbeda, namun kedua penyakit tersebut bisa saling berhubungan satu sama lain. Simak penjelasannya disini.

hubungan antara penyakit hepatitis dan hipertensi

Sekilas Tentang Hepatitis

Hepatitis adalah suatu infeksi peradangan yang terjadi pada organ hati. Ada banyak hal yang menjadi penyebab dari terjadinya hepatitis, dan biasanya disebabkan oleh adanya virus yang terbagi menjadi 5 kelompok dari A sampai E. Hepatitis virus yang akan menyebar dikarenakan terdapat paparan terhadap darah ataupun cairan tubuh yang mengalami infeksi, seperti cairan vagina dan air mani. Kebersihan dan sanitasi yang buruk, serta adanya infeksi HIV yang dapat meningkatkan resiko berkembangnya hepatitis virus. Selain itu, hepatitis juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang dapat merusak organ hati, mengonsumsi minuman alkohol secara berlebihan dan autoimun.

Pada umumnya gejala yang akan terjadi dari penyakit hepatitis yaitu rasa mual, kelelahan, nafsu makan berkurang, rasa tidak nyaman pada bagian perut karena mengalami nyeri pada hati, urine berubah warna menjdi kuning, kulit dan bagian putih mata menguning, serta akan mengalami penurunan berat badan.

Jika kondisi tersebut tidak segera diobati, maka lama kelamaan akan berkembang menjadi kondisi kronis. Biasanya hepatitis akan disebut kronis ketika sudah terjadi lebih dari 6 bulan. Apabila kondisi tersebut tidak membaik, maka bisa berujung pada fibrosis atau sirosis hati.

Artikel terkait : Obat Hepatitis 

Sekilas Tentang Hipertensi

Hipertensi sistemik atau tekanan darah tinggi dapat terjadi ketika tekanan darah di seluruh tubuh naik, sistolnya hingga 140 keatas dan diastolnya 90 keatas. Penyakit hipertensi dibedakan menjadi dua jenis, hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada hipertensi primer yaitu peningkatan tekanan darah yang belum masih belum diketahui penyebabnya. Sedangkan pada hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh adanya penyakit lain.

Lalu bagaimana hubungan antara hepatitis dan hipertensi?

Pada penyakit hepatitis kronis dapat berujung pada sirosis atau yang disebut dengan fibrosis hati. Sirosis terjadi karena adanya jaringan hati yang mengeras sehingga akan menyebabkan hati menjadi tidak bisa berfungsi dengan baik. Apabila kondisi sirosis sudah terlalu parah, maka akan benar-benar tidak berfungsi bahkan dapat menyebabkan hipertensi portal.

Hipertensi portal akan terjadi jika darah sudah tidak bisa mengalir dengan baik di area hati dan terdapat tekanan yang lebih pada bagian pembuluh vena portal menujug organ tersebut. Pada umumnya hipertensi disebabkan oleh adanya hepatitis B dan hepatitis C. Dan inilah yang menghubungkan antara hepatitis dan hipertensi.

Pada umumnya kondisi hipertensi portal disebabkan oleh adanya sirosis hati yang berbeda dengan kondisi hipertensi. Kondisi hipertensi portal merupakan adanya peningkatan tekanan pada pembuluh darah di bagian porta sehingga penderita sirosis hati akan memiliki riwayat muntah darah, kaki bengkak, atau feses hitam. Sementara kondisi hipertensi yang sering dibutuhkan pada umumnya merupakan suatu kondisi yang dimana tekanan darah seluruh tubuh mengalami peningkatan dari kadar normal.

Hepatitis dapat dicegah jika tekanan darah tinggi terkontrol dengan baik. Hipertensi yang dikontrol terbukti dapat memperlambat pada perkembangan hepatitis. Didalam sebuah studi juga yang telah dilakukan oleh Parrili bahwa hepatitis kronis bisa berhubungan dengan hipertensi. Bagi penderita hipertensi maka akan memiliki peluang untuk terkena hepatitis dibandingkan dengan mereka yang mengalami tekanan darah tidak terkontrol.

Pada dasarnya hepatitis masih bisa disembuhkan dengan cara pengobatan yang ketat, sehingga bisa terhindar dari berbagai macam komplikasi termasuk pada sirosis hati. Jika seseorang mengalami kedua kondisi tersebut, sebaiknya untuk segera konsultasikan pada dokter. Perlu diingat dan diketahui bahwa, lakukan pola hidup yang sehat dan baik, dengan menjaga pola makan dan melakukan aktivitas fisik secara teratur sehingga Anda dapat mengontrol tekanan darah Anda.

| Ketahui Penyebab Dari Penderita Hepatitis Mengalami Hipertensi

Apa Sih Perbedaan Sirosis Hati dan Hepatitis?

Penyakit hepatitis ataupun sirosis hati termasuk penyakit hati kronis yang dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Meskipun keduanya merupakan penyakit yang dapat menyerang organ hati, akan tetapi kedua penyakit tersebut berbeda. Lalu apa perbedaan dari penyakit sirosis hati dan hepatitis? Penyakit manakah yang lebih berbahaya?

Penyakit hepatitis dan sirosis hati sama-sama dapat menyebabkan organ hati mengalami peradangan atau pembengkakan yang pada akhirnya mengalami kerusakan. Dari penyakit keduanya merupakan jenis penyakit yang dapat menyebabkan suatu komplikasi sangat buruk seperti akan menimbulkan luka permanen pada hati, bahkan mengalami kanker hati. Dari pemicu kedua penyakit tersebut juga hampir mirip. Keduanya dapat disebabkan oleh seringnya mengonsumsi minuman alkohol atau penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang panjang.

perbedaan hepatitis dan sirosis hati

Tanda dan Gejala Hepatitis dan Sirosis Hati

Gejala yang akan muncul dari penyakit hepatitis dan sirosis hati juga hampir mirip, diantaranya :

Tanda dari kedua penyakit ini yaitu mengalami perubahan bagian kulit dan bola mata menjadi menguning. Jika Anda mengalami kondisi tersebut, kemungkinan Anda sedang mengalami gangguan pada fungsi hati.

Pada kondisi seperti ini terjadi gangguan pada fungsi hati. Biasanya kondisi ini akan diiringi dengan gejala sulit untuk bernafas dikarenakan adanya cairan yang menumpuk pada sekitar perut.

  • Gatal pada permukaan kulit

Hal ini diakibatkan karena zat bilirubin yang masuk kedalam aliran darah sehingga akan muncul dibawah permukaan kulit. Biasanya gejala tersebut akan diiringi dengan bercak-bercak berwarna kemerahan.

  • Kaki bengkak

Terjadinya pembengkakan pada kaki dapat disebabkan oleh penumpukan cairan pada sekitar kaki (edema). Pada hal ini akan menunjukkan bahwa aliran darah didalam tubuh mengalami gangguan.

  • Mengalami tanda-tanda lainnya seperti mual, muntah, susah tidur, bahkan hilang kesadaran.

Berikut ini perbedaan hepatitis dan sirosis hati

Dari kedua penyakit tersebut memiliki peluang kesembuhan yang berbeda. Pada kebanyakan kasus yang terjadi, hepatitis dapat disembuhkan, apalagi jika kondisinya berhasil terdeteksi sejak dini. Sedangkan pada sirosis hati merupakan suatu infeksi yang kronis yang dapat menyebabkan organ sudah memiliki banyak luka dimana-mana sehingga kemungkinan tidak bisa disembuhkan seperti sebelumnya.

Pengobatan yang dilakukan dari kedua penyakit tersebut juga akan berbeda karena pada tingkat keparahannya juga berbeda. Biasanya seseorang yang mengalami hepatitis akan diberikan obat dan istirahat yang cukup. Tetapi hal tersebut juga tergantung pada jenis hepatitis yang diderita. Sedangkan seseorang yang mengalami sirosis hati, biasanya akan menjalani pengobatan dengan melalui operasi atau bahkan melakukan transplantasi hati (cangkok hati).

Penyakit manakah yang lebih berbahaya?

Pada dasarnya, kedua penyakit antara hepatitis dan sirosis hati ini dapat menyebabkan komplikasi bagi tubuh yaitu kanker hati. Tetapi, jika pada seseorang yang mengalami penyakit hepatitis maka tingkat kesembuhannya cukup besar, tergantung pada penyebab penyakit.

Sedangkan pada sirosis hati merupakan peradangan hati pada tahap akhir yang kemungkinan tidak bisa dikembalikan lagi. Seseorang yang mengalami penya tersebut maka akan beresiko lebih besar mengalami gagal hati atau kanker hati. Tetapi, pada pengobatannya pun akan tetap dilakukan untuk menurunkan komplikasi serta mencegah organ hati yang semakin rusak. Pada beberapa jenis hepatitis yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan hati mengalami sirosis hati. Sementara jika sirosis hati tidak bisa ditangani dengan baik maka tim medis akan melakukan cangkok hati.

| Apa Sih Perbedaan Sirosis Hati dan Hepatitis?

Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

mengobatihepatitisbkronis.com – Tato adalah suatu seni menggambar pada tubuh dengan menggunakan tinta dan jarum khusus. Ketika membuat tato, tinta yang bersifat permanen kemudian dimasukkan pada lapisan kulit dengan menggunakan jarum. Dibalik keindahan tato, ternyata tato memiliki dampak yang cukup berbahaya bagi kesehatan yang tentu saja akan membuat anda berfikir dua kali untuk membuat tato pada tubuh.

dampak tato bagi kesehatan dan kulit

Tetapi resiko tato bukan hanya pada jenis tato yang dibuat sebagai hiasan tubuh saja, ternyata juga pada tato kosmetik seperti tato alis atau tato bibir. Pada umumnya dalam pembuatan tato dilakukan tanpa adanya bantuan anestesi atau obat bius, sehingga akan merasakan rasa sakit atau nyeri akibat dari tusukan jarum tersebut.

Yang harus diperhatikan yaitu infeksi pada tato, karena pada proses pembuatan tato dapat dilakukan secara bebas dan tidak semuanya memiliki prosedur tindakan yang memenuhi pada standar kesehatan. Mungkin saja pada jarum suntik tidak steril. Selain itu juga, apabila tidak disimpan dengan baik, maka tinta yang dimasukkan kedalam kulit akan terkontaminasi bakteri sehingga terjebak didalam kulit.

Terjadinya infeksi ditandai dengan timbul ruam berwarna merah di sekitar tato dan disertai dengan demam. Sedangkan pada infeksi yang lebih parah dapat terjadi demam yang tinggi,menggigil, berkeringat hingga merasa kedinginan. Kondisi tersebut membutuhkan obat antibiotik atau perawatan lain yang lebih intensif di rumah sakit.

Berikut Berbagai Resiko Tato Pada Kesehatan Tubuh

Terdapat beberapa jenis tinta tato yang bersifat toksis atau beracun. Bahkan ada juga yang mengandung zat karsinogen (pemicu kanker) serta tidak memenuhi standar keamanan internasional didalam komposisi tinta tersebut. Ada juga komponen yang tidak aman didalam tinta tato seperti barium, merkuri, tembaga, dan yang lainnya. Tinta tato yang mungkin akan menimbulkan reaksi alergi setelah membuat tato. Berikut beberapa dampak dari pembuatan tato :

1. Alergi

Meskipun tidak pada semua orang tidak mengalami hal ini, tetapi alergi dapat beresiko dan terjadi pada kulit yang ditato. Alergi yang disebabkan oleh adanya zat warna pada tinta yang digunakan untuk membuat tato. Reaksi ini biasanya akan muncul seperti gatal-gatal atau ruam pada kulit yang ditato.

2. Penyakit Hepatitis

Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang bisa didapatkan saat membuat tato menggunakan jarum bekas. Bahkan selain menyebabkan penyakit hepatitis, anda juga akan tertular HIV AIDS.

3. Tetanus

Alat untuk membuat tato (seperti jarum) yang tidak steril akan menyebabkan terkena tetanus. Pada jarum yang tidak steril dan tidak disimpan dengan baik memungkinkan akan mengandung bakteri, sehingga pada akhirnya akan terkena infeksi.

4. Keloid

Kulit yang sudah ditato kemungkinan akan menimbulkan bekas luka yang melampaui batas normal. Hal ini dikarenakan oleh adanya pertumbuhan yang berlebihan pada jaringan parut ketika kulit ditato. Keloid akan menimbulkan masalah penampilan dibandingkan dengan kesehatan. Dan mungkin saja akan merasa terganggu dengan keloid yang besar dan berada pada tempat yang terlihat orang lain.

5. Dapat Mempengaruhi MRI (Magnetic Resinance Imaging)

Tinta yang berbahan dasar logam dapat menghambat proses pemeriksaan dengan melalui scan MRI. Pada beberapa kasus yang langka ini juga diketahui ada penderita yang mengalami luka besar akibat dari tato yang bereaksi dengan MRI. Selain itu juga, pigmen yang terdapat pada tato dapat mengganggu kualitas gambar yang diambil dan apabila tinta mengandung logam, warna tato juga akan memudar.

Itulah berbagai resiko tato, mulai dari infeksi hingga penyakit lain yang lebih berbahaya. Oleh karena itu sebaiknya untuk pertimbangkan kembali resiko-resiko tersebut sebelum membuat tato.

| Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Perlemakan hati non-alkohol adalah suatu kondisi yang terlalu banyak lemak dan tersimpan didalam sel-sel hati. Akan tetapi hal ini terjadi pada orang yang memang bukan peminum alkohol atau hanya minum sedikit alkohol. Perlemakan hati non-alkohol yang merupakan bentuk penyakit yang berpotensi cukup serius, dengan ditandai oleh peradangan hati berat (yang dapat berkembang menjadi luka dan juga kerusakan yang tidak dapat disembuhkan). Kondisi kerusakan ini hampir mirip dengan rusaknya hati yang disebabkan oleh pengguna minuman alkohol berat.

Pada kondisi perlemakan hati non-alkohol ini termasuk kondisi kronis. Saat ini penyakit perlemakan hati non-alkohol lebih umum terjadi yang dimana kasus obesitas atau kelebihan berat badan yang sekarang lebih umum terjadi di dunia.

definisi perlemakan hati non-alkohol

Apa saja jenis perlemakan hati non-alkohol?

Terdapat 4 jenis perlemakan hati non-alkohol dari mulai yang tidak berbahaya sampai yang mengancam nyawa, diantaranya :

  • Nonalcoholic Fatty Liver (NAFLD). Pada jenis ini termasuk jenis paling serius. Adanya lemak yang menumpuk didalam hati, tetapi tidak akan menyakiti Anda. Dan kondisi ini merupakan kondisi yang cukup umum untuk memiliki jenis penyakit hati berlemak non-alkohol saat ini.
  • Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH). Jenis ini merupakan lemak yang menumpuk dan dapat menyebabkan peradangan pada hati. Sehingga akan merusak pada bagian hati dan menyebabkan luka serta mengurangi fungsi hati.
  • Perlemakan hati non-alkohol terkait sirosis. Kondisi peradangan hati ini dapat menyebabkan luka yang cukup parah pada jaringan dan mengalami gagal hati, bahkan liver tidak dapat berfungsi lagi.

 Artikel terkait : Obat Herbal Hati Berlemak

Penyebab Perlemakan Hati Non-alkohol

NAFLD merupakan salah satu sindrom metabolik yang ditandai dengan diabetes atau pra-diabetes (resistensi insulin), meningkatnya lemak darah seperti kolesterol dan trigliserida, kelebihan berat badan atau obesitas, serta tekanan darah tinggi. Tetapi tidak semua pasien akan mengalami manifestasi sindrom metabolik. Terdapat beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan berkembangnya NASH, diantaranya :

  • Tidak seimbangnya antara bahan kimia pro-oksidan dengan anti-oksidan yang dapat menyebabkan kerusakan sel hati (stres aoksidatif)
  • Nekrosis atau kematian sel hati yang disebut dengan apoptosis
  • Produksi dan pelepasan protein inflamasi yang beracun (sitokin) oleh sel inflamasi, sel-sel lemak, atau sel-sel hati.
  • Peradangan jaringan adipose (jaringan lemak) dan infiltrasi sel darah putih
  • Gut microbiota (bakteri usus) yang anggap sebagai penyebab peradangan hati.

Faktor yang dapat meningkatkan resiko terkena perlemakan hati non-alkohol, antara lain :

  • kolesterol tinggi
  • kadar trigliserida dalam darah tinggi
  • obesitas, jika lemak terkonsentrasi pada perut
  • sindrom metabolik
  • diabetes tipe II
  • sleep apnea
  • tiroid kurang aktif (hipotiroidisme)
  • kelenjar pituitary kurang aktif (hipoputuitarisme)
  • usia lanjut

Gejala perlemakan hati non-alkohol

  • Kelelahan dan lemas
  • Pembesaran hati
  • Berat badan menurun
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Kulit dan mata menguning (jaundice)
  • Pembuluh darah seperti laba-laba
  • Gatal, terjadinya penumpukan cairan dan pembengkakan pada kaki (edema) dan abdomen (ascites)
  • Kebingungan

Sedangkan pada penderita perlemakan hati akut yang merupakan komplikasi kehamilan langka dan bahkan dapat mengancam nyawa. Berikut ini ada beberapa gejala awal trimester ketiga, diantaranya :

  • Mual dan muntah yang persisten
  • Nyeri perut pada bagian atas kanan
  • Malaise umum
  • Penyakit kuning

Sebagai pencegahan guna untuk mengurangi resiko penyakit perlemakan hati non-alkohol Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini :

  • mempertahankan berat badan
  • makan diet sehat
  • olahraga secara teratur
  • membatasi asupan alkohol
  • tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang.

| Baca juga : 

| Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Kenali Perbedaan Gejala Tipes dan Hepatitis

Hepatitis adalah salah satu masalah kesehatan umum yang sering terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan tipes adalah salah satu penyakit yang menular bahkan dapat mengancam kesehatan. Dari kedua penyakit ini sama-sama dapat disebabkan oleh kebersihannya yang kurang baik. Lalu apa perbedaan tipes dan hepatitis?

perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Hepatitis yang merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada sel-sel hati manusia yang dapat disebabkan oleh adanya infeksi seperti virus, bakteri, parasit, dan toksin, seringnya mengonsumsi minuman alkohol, obat-obatan dan penyakit autoimun. Pada penyakit hepatitis ini memiliki beberapa jenis berdasarkan virus yang menyerangnya diantaranya hepatitis A, B, C, dan E.

Masa inkubasi pada seseorang yang menderita penyakit hepatitis membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Pada penyakit hepatitis A memerlukan masa inkubasi rata-rata sekitar 28 hari, hepatitis B 120 hari, sedangkan pada hepatitis C 45 hari. Lalu apa itu tipes?

Menurut CDC, tipes atau yang disebut dengan demam tifoid merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh adanya bakteri Salmonella. Bakteri tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dengan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Bakteri tersebut akan menyerang pada bagian usus halus manusia, kemudian akan berkembang biak serta menyebar. Untuk masa inkubasi atau masa timbulnya gejala sejak bakteri masuk kedalam tubuh, penderita penyakit tipes memerlukan waktu kurang lebih 14 hari.

Perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Pada umumnya terdapat beberapa gejala yang sama antara tipes dan hepatitis, yaitu pusing, mual, muntah, demam, nafsu makan berkurang, dan nyeri perut. Tetapi ada gejala utama yang dapat membedakan tipes dan hepatitis yakni terjadinya penyakit kuning (jaundice) untuk penderita hepatitis.

Jaundice atau ikterus merupakan suatu kondisi yang dimana jaringan tubuh menjadi kekuningan yang disebabkan oleh menurunnya konsentrasi bilirubin pada cairan ekstraseluler pada seseorang yang menderita hepatitis. Sedangkan pada penyakit tipes tidak akan terjadi gejala seperti ini, tetapi dapat ditemukan seperti bintik-bintik berwarna merah muda area dada. Selain itu, biasanya pada penderita hepatitis akan memiliki gejala demam, sedangkan pada penderita tipes, suhu tubuh akan cenderung meningkat saat menjelang sore hati, dan akan menurun normal kembali pada pagi hari.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Perbedaan penyakit hepatitis dan tipes dari segi penularan penyakit

Penularan pada penyakit tipes dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi Salmonella typhi. Pada makanan atau minuman tersebut terkontaminasi oleh lalat yang sebelumnya menempel pada muntahan ,urine, atau kotoran dari penderita tipes. Makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan manusia, pada sebagian kuman dari makanan tersebut mati oleh pengaruh asam lambung dan pada sebagiannya lagi akan masuk kedalam usus halus.

Kuman akan masuk kedalam kelenjar getah bening, pembuluh darah, bahkan ke seluruh tubuh terutama pada organ hati dan empedu sehingga air seni penderita tipes mengandung bakteri Salmonella yang akan mencemari manusia lainnya.

Penularan hepatitis bermacam-macam berdasarkan pada jenis virusnya. Pada hepatitis A dan E, cara penularannya hampir mirip dengan tipes yaitu pada umumnya terjadi karena pencernaan air minum, makanan yang tercemar, makanan yang tidak dimasak, kebersihan tubuh yang tidak terjaga, dan sanitasi yang buruk. Sedangkan pada hepatitis B cara penularannya 95% terjadi ketika persalinan (hubungan antara ibu dan anak). Akan tetapi juga dapat terjadi dengan melalui transfusi darah, pisau cukur, jarum suntik yang tercemar, tato, atau transplantasi organ. Sementara pad hepatitis C cara penularannya dapat terjadi dengan melalui darah dan cairan tubuh.

Pengobatan penyakit hepatitis dan tipes

Biasanya pada penyakit tipes akan diberikan obat anti biotik oleh dokter, sedangkan pada penyakit hepatitis tergantung pada jenis penyakit hepatitis yang diderita. Penyakit hepatitis A tidak terdapat pengobatan yang khusus, tetapi hanya diberikan pengobatan pendukung serta dijaga keseimbangan gizinya. Sedangkan untuk pengobatan hepatitis tipe B, C, dan D akan diberikan antiviral khusus dan interferon.