Monthly Archives: October 2017

Bolehkah Penderita Penyakit Hepatitis Minum Kopi?

Hepatitis adalah suatu penyakit yang menyerang pada organ hati yang disebabkan oleh adanya virus. Penyakit hepatitis terdapat 3 golongan yaitu hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C, yang dimana semua jenis penyakit hepatitis tersebut memiliki penularan yang berbeda-beda.

Apakah penderita hepatitis aman minum kopi?

Kopi yang merupakan minuman yang sangat banyak dikenal sebagai minuman pengusir kantuk, penambah semangat, bahkan dikenal dengan rasanya yang nikmat. Bagi para pecinta kopi selain untuk mendapatkan sensasi dengan aroma kopi dan juga rasa yang nikmat, ternyata memiliki dampak positif dan juga dampak negatif bagi penderita penyakit hepatitis, apa saja? Simak informasinya dibawah ini.

bolehkah penderita hepatitis minum kopi

Dampak Negatif dan Dampak Positif Kopi Bagi Penderita Hepatitis

Kopi dapat berpengaruh buruk bagi penderita hepatitis, antara lain :

1. Meningkatkan Konsentrasi Enzim

Mengonsumsi kopi secara berlebihan dalam setiap hari maka akan berbahaya bagi penderita hepatitis, karena dapat meningkatkan konsenstrasi enzim Alarin Aminotransferase pada sel hati sehingga kesehatan hati akan menjadi rusak dan bahkan dapat memicu timbulnya sel kanker pada hati.

2. Dapat Memicu Kanker Hati

Kopi yang dikonsumsi melebihi batas kewajaran seperti lebih dari 3 cangkir dalam perharinya maka dapat mengganggu metabolisme tubuh menjadi tidak seimbang, bahkan dapat memicu tumbuhnya sel kanker dalam jaringan.

3. Fatty Liver

Mengonsumsi kopi secara berlebihan dapat membuat hati menjadi membengkak dan mengakibatkan kerusakan pada jaringan didalamnya. Kafein yang mampu membuat pertumbuhan sel kanker pada organ hati dapat meningkatkan lebih cepat. Selain itu juga, kafein dapat menjadikan hati menjadi mengerut dan juga mengeras yang kemudian akan mengakibatkan proses sirosis (hepatitis C kronis).

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Itulah dampak negatif mengonsumsi kopi bagi penderita penyakit hepatitis. Dan berikut dampak positif kopi bagi penderita penyakit hepatitis jika dikonsumsi dengan batas yang wajar dan tidak dikonsumsi setiap hari, diantaranya :

1. Mencegah Liver Autoimun

Dengan mengonsumsi kopi kurang dari 3 gelas perhari maka dan dengan takaran gelas ukuran kecil bagi penderita hepatitis baik, karena dapat menurunkan menderita primary Selerosing Cholansitis yaitu penyakit liver autoimun.

2. Minuman Detoksifikasi

Mengonsumsi kopi dengan tidak berlebihan dan tidak dikonsumsi setiap hari, maka dapat menetralkan alkohol dan juga racun yang bisa berakibat menjadi sisa limbah makanan yang dapat melukai jaringan hati sehingga dapat terhindar dari serangan kerusakan hati ataupun penyakit hati.

| Baca juga : Daftar Makanan Sehat dan Alami Untuk Mendetoks Tubuh

3. Memperbaiki Fungsi Enzim Hati

Kopi yang dikonsumsi dengan jumlah yang seimbang maka dapat memperbaiki kinerja enzim hati sehingga fungsi hati akan terjaga kesehatannya dan terhindar dari tumbuhnya sel kanker pada jaringan hati.

Itulah dampak negatif dan dampak positif minum kopi bagi penderita penyakit hepatitis yang perlu Anda ketahui. Bagi Anda yang menderita penyakit hepatitis dan ingin mengonsumsi kopi, sebaiknya untuk membatasinya supaya tidak akan berdampak buruk bagi kesehatan hati dan kesehatan lainnya.

| Bolehkah Penderita Penyakit Hepatitis Minum Kopi?

Advertisements

Ketahui Sejak Dini Penyakit Hepatitis Autoimun

Apa itu hepatitis autoimun?
Hepatitis Autoimun adalah salah satu penyakit kronis yang dimana sistem imunitas tubuh menyerang pada sel-sel hati. Hal ini menyebabkan hepatitis atau peradangan hati (pembengkakan). Hepatitis autoimun yang merupakan penyakit sangat serius yang dapat berujung Cirrhosis (pengerasan) serta gagal hati jika tidak diobati dengan baik. Meskipun pada penyakit ini tidak menimbulkan penularan, tetapi penyakit hepatitis autoimun tidak dapat dicegah.

hepatitis autoimun

Jenis-jenis Hepatitis Autoimun

1. Hepatitis Autoimun Tipe 1

Jenis ini merupakan salah satu bentuk yang sering terjadi dari penyakit hepatitis autoimun. Hepatitis autoimun tipe 1 dapat menyerang pada semua golongan usia, akan tetapi wanita sangat beresiko lebih tinggi dibandingkan dengan pria. Biasanya penyakit hepatitis autoimun tipe 1 akan dipengaruhi dengan gangguan sistem imunitas seperti rheumatoid arthritis, tiroiditis, dan colitis ulserativa.

2. Hepatitis Autoimun Tipe 2

Pada jenis ini biasanya sering menyerang pada anak-anak di usia 2-14 tahun. Di beberapa negara tertentu, penyakit hepatitis ini juga menyerang pada orang dewasa, yang dimana pada wanita muda juga lebih beresiko terserang penyakit hepatitis jenis ini. Hepatitis autoimun 2 juga dapat terjadi karena adanya seseorang mengalami gangguan sistem imunitas seperti pada jenis hepatitis autoimun tipe 1.

Penyebab Hepatitis Autoimun

Penyakit hepatitis autoimun terjadi karena sistem imunitas yang menghasilkan antibodi yang menyerang pada organ hati. Kondisi tersebut disebabkan karena antibodi tidak mengenali jaringan dan organnya sendiri. Saat dalam keadaan normal, sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh dari serangan berbagai mikroorganisme, namun pada penderita hepatitis autoimun ini malah terjadi sebaliknya. Hingga sekarang, para ilmuan masih belum bisa menemukan penyebab utamanya terhadap kondisi kesehatan tersebut.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyakit hepatitis autoimun :

  • Mengalami gangguan pada sistem imun.
  • Faktor genetik.
  • Memiliki riwayat penyakit tertentu yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri atau virus.
  • Adanya obat-obatan tertentu seperti antibiotik minocucline dan obat untuk mengatasi kolesterol seperti lipitor.
  • Mengonsumsi alkohol dengan jumlah yang berlebihan.

Gejala Hepatitis Autoimun

Penyakit hepatitis autoimun dapat menyebabkan gejala yang berbeda-beda pada setiap orang. Gejala yang paling umum terjadi yaitu kelelahan, namun ada gejala lainnya yaitu :

  • Mual
  • Nyeri sendiri
  • Kulit menguning (penyakit kuning)
  • Urine kuning pekat
  • Feses pucat
  • Terjadinya pembengkakan hati yang menyebabkan perasaan menjadi kurang nyaman.

Penderita yang sudah mengalami penyakit sudah parah akan mengalami gejala seperti cairan pada abdomen (ascites) bahkan kebingungan mental. Selain itu juga mungkin akan mengalami gejala gagal hati atau Cirrhosis.

Untuk Anda yang ingin mengetahui apakah Anda mengalami penyakit ini atau tidak, maka Anda bisa melakukan 2 jenis pemeriksaan yaitu :

  • Melakukan tes darah

Tim medis akan mengambil sampel darah untuk menentukan jenis penyakit hepatitis yang dialami. Selain itu, hasil dari tes tersebut dapat menentukan tipe penyakit hepatitis autoimun.

  • Biopsi hati

Pada jenis ini, tingkat kerusakan pada organ hati bisa dilihat dari hasil biopsi. Kemudian tim medis akan mengambil sampel dari jaringan organ hati dengan menggunakan jarum tipis yang telah dimasukkan kedalam kulit yang menembus organ hati.

Sebagai suatu pencegahan, Anda dapat melakukan pengobatan rumahan untuk mengatasi penyakit hepatitis autoimun tersebut, antara lain :

  1. Rutin melakukan jadwal pemeriksaan supaya mengetahui perkembangannya.
  2. Hindari mengonsumsi alkohol karena dapat merusak organ hati.
  3. Lakukan diet sehat, olahraga teratur, dan istirahat yang cukup untuk merasakan yang lebih baik.

Pada umumnya penyakit hepatitis autoimun ini tidak dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan, namun dengan mengetahui faktor yang menjadi pemicu serta memperparah kondisi, maka diharapkan untuk dapat lebih berhati-hati. Perlu diketahui bahwa penyakit hepatitis autoimun yang parah maka dapat menyebabkan sirosis hati dan gagal hati. Untuk itu segera lakukan pengobatan dengan tepat.

| Ketahui Sejak Dini Penyakit Hepatitis Autoimun

Inilah Tes Fungsi Hati Untuk Mendeteksi Kesehatan Hati

Tes fungsi hati atau yang dikenal dengan liver panel atau liver function tes merupakan sekelompok tes darah yang mengukur enzim atau protein tertentu yang ada didalam darah. Pada umumnya tes fungsi hati digunakan untuk membantu dalam mendeteksi, menilai, serta memantau penyakit ataupun kerusakan pada hati.

Biasanya untuk memantau kondisi hati, tes ini dilakukan dengan cara berkala, atau dilakukan saat memiliki resiko perlukaan pada hati, saat seseorang mengidap penyakit hati atau muncul suatu gejala tertentu seperti ikterus (jaundice). Pada tes ini diperlukan contoh darah yang diambil dari pembuluh balik (vena) yang pada umumnya pada lengan penderita.

tes fungsi hati untuk mendeteksi hati

Hati yang merupakan salah satu organ yang paling besar dalam tubuh manusia, yang berada pada perut (abdomen) bagian atas kanan dan dibalik rusuk-rusuk bagian bawah. Hati akan mendetoksifikasi obat-obatan dan juga unsur yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu juga akan menghasilkan faktor-faktor, protein dan enzim pembekuan darah, menyimpan vitamin dan mineral, serta membantu keseimbangan hormon. Empedu merupakan suatu cairan yang dibentuk oleh hati, kemudian dialirkan melalui saluran pada usus halus untuk membantu dalam mencerna lemak atau ke kandung empedu bertujuan untuk menyimpan dan digunakan untuk keperlukan selanjutnya.

Terdapat berbagai alasan untuk melakukan tes fungsi hati, yaitu untuk membantu kita dalam menggambarkan suatu gambaran yang mungkin terpapar oleh virus hati yang disebut dengan hepatitis. Pada tes ini dapat membantu untuk memonitor progresi penyakit virus ataupun hepatitis alkoholik dan juga mengetahui keberhasilan pada pengobatan yang telah dilakukan. Selain itu juga fungsi ini dapat dipakai untuk mengukur beratnya penyakit serta bisa jadi terjadi Cirrhosis.

Lalu apa saja tes fungsi hati tersebut untuk mendeteksi hati?

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Berikut Tes Fungsi Hati

Biasanya tes darah hati terdiri dari 6 tes terpisah yang dilakukan pada contoh darah tunggal, hal tersebut meliputi :

1. Alanine Aminotransferase (ALT)

Jenis ini merupakan enzim yang tes fungsi hati ditemukan terutama pada dalam sel hati. ALT dapat membantu metabolisme protein dalam kondisi tubuh. Di dalam kondisi yang normal, ALT dalam darah berkadar rendah, sebaliknya jika kadar ALT tinggi maka akan mengindikasikan adanya kerusakan atau gangguan pada hati.

Terlepas dari seberapa banyak kadar ALT dalam darah, maka peradangan atau kematian sel hati hanya dapat dipantau dengan biopsi hati. Meskipun kadar ALT dalam pembuluh darah merupakan pengukuran yang kuantitatif langsung, namun tes ini tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis kerusakan hati atau perkembangan suatu penyakit.

2. Aspartate Aminotransferase (AST)

Pada enzim ini berperan sebagai metabolisme alanine. AST yang ditemukan dalam kadar tinggi pada sel-sel hati, jantung, dan otot lainnya. Tetapi apabila AST ditemukan dengan kadar yang tinggi dalam darah, maka hal ini mengindikasikan adanya kerusakan atau adanya penyakit hati.

3. Alkaline Phosphatase (ALP)

ALP yang terdapat pada jaringan tubuh seperti usus, plasenta, ginjal, dan tulang yang diproduksi di bagian saluran empedu dan selaput sinusoidal hati. Apabila saluran empedu tersebut tersumbat maka kadar ALP akan meningkat. Selain itu juga. Apabila terajdi sirosis, sclerosing cholangitis serta kanker hati maka kadar ALP akan meningkat. Selain itu penyakit tulang, gagal jantung kongestif dan hipertiroidisme bisa menyebabkan tingginya kadar ALP yang bahkan tidak tertuga. Peningkatan tersebut disebabkan oleh suatu masalah hati apabila kadar GGT mengalami peningkatan. Normalnya kadar ALP dalam darah yaitu antara 30 hingga 115 IU/L.

4. Bilirubin

Bilirubin merupakan cairan berwarna kuning yang terdapat pada aliran darah dan diproduksi dibagian hati oleh sel-sel darah merah yang mati karena usia. Hati akan menyaring sel-sel darah merah dari aliran darah saat proses modifikasi kimiawi yang disebut dengah konjugasi. Kemudian sel-sel tersebut akan dilepaskan ke bagian empedu, lalu disalurkan dan sebagian akan diserap kembali kedalam usus.

| Baca juga : Obat Penyakit Kuning Alami Untuk Anak dan Dewasa

Kadar bilirubin dapat meningkat karena dari berbagai penyakit termasuk penyakit hati. Apabila mengalami kerusakan maka bilirubin dapat memicu penyakit kuning, yaitu suatu kondisi menguningnya pada mata dan kulit yang disertai dengan urin gelap dan feses berwarna terang. Penyebab meningkatnya kadar bilirubin yaitu :

  • Hepatitis virus
  • Sirosis hati
  • Penyumbatan saluran empedu
  • dan penyakit hati lainnya

5. Albumin

Pemeriksaan pada albumin yaitu bertujuan untuk mengetahui penurunan kadar albumin yang biasa terjadi pada penyakit hati kronik. Namun penurunan albumin ini dapat disebabkan oleh kekurangan asupan protein.

6. Total Protein (TP)

Total protein yaitu tes darah yang mengukur albumin dan semua protein lainnya yang ada dalam aliran darah, termasuk antibodi yang dapat membantu untuk melawan infeksi. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan peningkatan atau menurunnya kadar protein yang tidak normal seperti penyakit hati, kanker darah, penyakit ginjal, malnutrisi, atau pembengkakan tubuh yang tidak normal. Kadar protein normal dalam aliran darah yaitu antara 6,5 hingga 8,2 g/dl.

Hasil dari tes fungsi hati bukanlah sebuah media yang diagnostik untuk kondisi yang spesifik, akan tetapi mereka mengindikasikan bahwa terdapat kemungkinan ada suatu masalah pada hati. Seseorang yang tidak memperlihatkan gejala atau tidak teridentifikasi adanya faktor resiko, namun hasil dari tes fungsi hati yang abnormal dapat mengindikasikan adanya gangguan pada hati. Tetapi juga dapat menandakan penyakit hati tahap awal serta diperlukan tes lebih lanjut atau pemantauan secara berkala.

| Inilah Tes Fungsi Hati Untuk Mendeteksi Kesehatan Hati