Monthly Archives: December 2017

Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

mengobatihepatitisbkronis.com – Tato adalah suatu seni menggambar pada tubuh dengan menggunakan tinta dan jarum khusus. Ketika membuat tato, tinta yang bersifat permanen kemudian dimasukkan pada lapisan kulit dengan menggunakan jarum. Dibalik keindahan tato, ternyata tato memiliki dampak yang cukup berbahaya bagi kesehatan yang tentu saja akan membuat anda berfikir dua kali untuk membuat tato pada tubuh.

dampak tato bagi kesehatan dan kulit

Tetapi resiko tato bukan hanya pada jenis tato yang dibuat sebagai hiasan tubuh saja, ternyata juga pada tato kosmetik seperti tato alis atau tato bibir. Pada umumnya dalam pembuatan tato dilakukan tanpa adanya bantuan anestesi atau obat bius, sehingga akan merasakan rasa sakit atau nyeri akibat dari tusukan jarum tersebut.

Yang harus diperhatikan yaitu infeksi pada tato, karena pada proses pembuatan tato dapat dilakukan secara bebas dan tidak semuanya memiliki prosedur tindakan yang memenuhi pada standar kesehatan. Mungkin saja pada jarum suntik tidak steril. Selain itu juga, apabila tidak disimpan dengan baik, maka tinta yang dimasukkan kedalam kulit akan terkontaminasi bakteri sehingga terjebak didalam kulit.

Terjadinya infeksi ditandai dengan timbul ruam berwarna merah di sekitar tato dan disertai dengan demam. Sedangkan pada infeksi yang lebih parah dapat terjadi demam yang tinggi,menggigil, berkeringat hingga merasa kedinginan. Kondisi tersebut membutuhkan obat antibiotik atau perawatan lain yang lebih intensif di rumah sakit.

Berikut Berbagai Resiko Tato Pada Kesehatan Tubuh

Terdapat beberapa jenis tinta tato yang bersifat toksis atau beracun. Bahkan ada juga yang mengandung zat karsinogen (pemicu kanker) serta tidak memenuhi standar keamanan internasional didalam komposisi tinta tersebut. Ada juga komponen yang tidak aman didalam tinta tato seperti barium, merkuri, tembaga, dan yang lainnya. Tinta tato yang mungkin akan menimbulkan reaksi alergi setelah membuat tato. Berikut beberapa dampak dari pembuatan tato :

1. Alergi

Meskipun tidak pada semua orang tidak mengalami hal ini, tetapi alergi dapat beresiko dan terjadi pada kulit yang ditato. Alergi yang disebabkan oleh adanya zat warna pada tinta yang digunakan untuk membuat tato. Reaksi ini biasanya akan muncul seperti gatal-gatal atau ruam pada kulit yang ditato.

2. Penyakit Hepatitis

Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang bisa didapatkan saat membuat tato menggunakan jarum bekas. Bahkan selain menyebabkan penyakit hepatitis, anda juga akan tertular HIV AIDS.

3. Tetanus

Alat untuk membuat tato (seperti jarum) yang tidak steril akan menyebabkan terkena tetanus. Pada jarum yang tidak steril dan tidak disimpan dengan baik memungkinkan akan mengandung bakteri, sehingga pada akhirnya akan terkena infeksi.

4. Keloid

Kulit yang sudah ditato kemungkinan akan menimbulkan bekas luka yang melampaui batas normal. Hal ini dikarenakan oleh adanya pertumbuhan yang berlebihan pada jaringan parut ketika kulit ditato. Keloid akan menimbulkan masalah penampilan dibandingkan dengan kesehatan. Dan mungkin saja akan merasa terganggu dengan keloid yang besar dan berada pada tempat yang terlihat orang lain.

5. Dapat Mempengaruhi MRI (Magnetic Resinance Imaging)

Tinta yang berbahan dasar logam dapat menghambat proses pemeriksaan dengan melalui scan MRI. Pada beberapa kasus yang langka ini juga diketahui ada penderita yang mengalami luka besar akibat dari tato yang bereaksi dengan MRI. Selain itu juga, pigmen yang terdapat pada tato dapat mengganggu kualitas gambar yang diambil dan apabila tinta mengandung logam, warna tato juga akan memudar.

Itulah berbagai resiko tato, mulai dari infeksi hingga penyakit lain yang lebih berbahaya. Oleh karena itu sebaiknya untuk pertimbangkan kembali resiko-resiko tersebut sebelum membuat tato.

| Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

Advertisements

Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Perlemakan hati non-alkohol adalah suatu kondisi yang terlalu banyak lemak dan tersimpan didalam sel-sel hati. Akan tetapi hal ini terjadi pada orang yang memang bukan peminum alkohol atau hanya minum sedikit alkohol. Perlemakan hati non-alkohol yang merupakan bentuk penyakit yang berpotensi cukup serius, dengan ditandai oleh peradangan hati berat (yang dapat berkembang menjadi luka dan juga kerusakan yang tidak dapat disembuhkan). Kondisi kerusakan ini hampir mirip dengan rusaknya hati yang disebabkan oleh pengguna minuman alkohol berat.

Pada kondisi perlemakan hati non-alkohol ini termasuk kondisi kronis. Saat ini penyakit perlemakan hati non-alkohol lebih umum terjadi yang dimana kasus obesitas atau kelebihan berat badan yang sekarang lebih umum terjadi di dunia.

definisi perlemakan hati non-alkohol

Apa saja jenis perlemakan hati non-alkohol?

Terdapat 4 jenis perlemakan hati non-alkohol dari mulai yang tidak berbahaya sampai yang mengancam nyawa, diantaranya :

  • Nonalcoholic Fatty Liver (NAFLD). Pada jenis ini termasuk jenis paling serius. Adanya lemak yang menumpuk didalam hati, tetapi tidak akan menyakiti Anda. Dan kondisi ini merupakan kondisi yang cukup umum untuk memiliki jenis penyakit hati berlemak non-alkohol saat ini.
  • Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH). Jenis ini merupakan lemak yang menumpuk dan dapat menyebabkan peradangan pada hati. Sehingga akan merusak pada bagian hati dan menyebabkan luka serta mengurangi fungsi hati.
  • Perlemakan hati non-alkohol terkait sirosis. Kondisi peradangan hati ini dapat menyebabkan luka yang cukup parah pada jaringan dan mengalami gagal hati, bahkan liver tidak dapat berfungsi lagi.

 Artikel terkait : Obat Herbal Hati Berlemak

Penyebab Perlemakan Hati Non-alkohol

NAFLD merupakan salah satu sindrom metabolik yang ditandai dengan diabetes atau pra-diabetes (resistensi insulin), meningkatnya lemak darah seperti kolesterol dan trigliserida, kelebihan berat badan atau obesitas, serta tekanan darah tinggi. Tetapi tidak semua pasien akan mengalami manifestasi sindrom metabolik. Terdapat beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan berkembangnya NASH, diantaranya :

  • Tidak seimbangnya antara bahan kimia pro-oksidan dengan anti-oksidan yang dapat menyebabkan kerusakan sel hati (stres aoksidatif)
  • Nekrosis atau kematian sel hati yang disebut dengan apoptosis
  • Produksi dan pelepasan protein inflamasi yang beracun (sitokin) oleh sel inflamasi, sel-sel lemak, atau sel-sel hati.
  • Peradangan jaringan adipose (jaringan lemak) dan infiltrasi sel darah putih
  • Gut microbiota (bakteri usus) yang anggap sebagai penyebab peradangan hati.

Faktor yang dapat meningkatkan resiko terkena perlemakan hati non-alkohol, antara lain :

  • kolesterol tinggi
  • kadar trigliserida dalam darah tinggi
  • obesitas, jika lemak terkonsentrasi pada perut
  • sindrom metabolik
  • diabetes tipe II
  • sleep apnea
  • tiroid kurang aktif (hipotiroidisme)
  • kelenjar pituitary kurang aktif (hipoputuitarisme)
  • usia lanjut

Gejala perlemakan hati non-alkohol

  • Kelelahan dan lemas
  • Pembesaran hati
  • Berat badan menurun
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Kulit dan mata menguning (jaundice)
  • Pembuluh darah seperti laba-laba
  • Gatal, terjadinya penumpukan cairan dan pembengkakan pada kaki (edema) dan abdomen (ascites)
  • Kebingungan

Sedangkan pada penderita perlemakan hati akut yang merupakan komplikasi kehamilan langka dan bahkan dapat mengancam nyawa. Berikut ini ada beberapa gejala awal trimester ketiga, diantaranya :

  • Mual dan muntah yang persisten
  • Nyeri perut pada bagian atas kanan
  • Malaise umum
  • Penyakit kuning

Sebagai pencegahan guna untuk mengurangi resiko penyakit perlemakan hati non-alkohol Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini :

  • mempertahankan berat badan
  • makan diet sehat
  • olahraga secara teratur
  • membatasi asupan alkohol
  • tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang.

| Baca juga : 

| Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Kenali Perbedaan Gejala Tipes dan Hepatitis

Hepatitis adalah salah satu masalah kesehatan umum yang sering terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan tipes adalah salah satu penyakit yang menular bahkan dapat mengancam kesehatan. Dari kedua penyakit ini sama-sama dapat disebabkan oleh kebersihannya yang kurang baik. Lalu apa perbedaan tipes dan hepatitis?

perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Hepatitis yang merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada sel-sel hati manusia yang dapat disebabkan oleh adanya infeksi seperti virus, bakteri, parasit, dan toksin, seringnya mengonsumsi minuman alkohol, obat-obatan dan penyakit autoimun. Pada penyakit hepatitis ini memiliki beberapa jenis berdasarkan virus yang menyerangnya diantaranya hepatitis A, B, C, dan E.

Masa inkubasi pada seseorang yang menderita penyakit hepatitis membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Pada penyakit hepatitis A memerlukan masa inkubasi rata-rata sekitar 28 hari, hepatitis B 120 hari, sedangkan pada hepatitis C 45 hari. Lalu apa itu tipes?

Menurut CDC, tipes atau yang disebut dengan demam tifoid merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh adanya bakteri Salmonella. Bakteri tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dengan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Bakteri tersebut akan menyerang pada bagian usus halus manusia, kemudian akan berkembang biak serta menyebar. Untuk masa inkubasi atau masa timbulnya gejala sejak bakteri masuk kedalam tubuh, penderita penyakit tipes memerlukan waktu kurang lebih 14 hari.

Perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Pada umumnya terdapat beberapa gejala yang sama antara tipes dan hepatitis, yaitu pusing, mual, muntah, demam, nafsu makan berkurang, dan nyeri perut. Tetapi ada gejala utama yang dapat membedakan tipes dan hepatitis yakni terjadinya penyakit kuning (jaundice) untuk penderita hepatitis.

Jaundice atau ikterus merupakan suatu kondisi yang dimana jaringan tubuh menjadi kekuningan yang disebabkan oleh menurunnya konsentrasi bilirubin pada cairan ekstraseluler pada seseorang yang menderita hepatitis. Sedangkan pada penyakit tipes tidak akan terjadi gejala seperti ini, tetapi dapat ditemukan seperti bintik-bintik berwarna merah muda area dada. Selain itu, biasanya pada penderita hepatitis akan memiliki gejala demam, sedangkan pada penderita tipes, suhu tubuh akan cenderung meningkat saat menjelang sore hati, dan akan menurun normal kembali pada pagi hari.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Perbedaan penyakit hepatitis dan tipes dari segi penularan penyakit

Penularan pada penyakit tipes dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi Salmonella typhi. Pada makanan atau minuman tersebut terkontaminasi oleh lalat yang sebelumnya menempel pada muntahan ,urine, atau kotoran dari penderita tipes. Makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan manusia, pada sebagian kuman dari makanan tersebut mati oleh pengaruh asam lambung dan pada sebagiannya lagi akan masuk kedalam usus halus.

Kuman akan masuk kedalam kelenjar getah bening, pembuluh darah, bahkan ke seluruh tubuh terutama pada organ hati dan empedu sehingga air seni penderita tipes mengandung bakteri Salmonella yang akan mencemari manusia lainnya.

Penularan hepatitis bermacam-macam berdasarkan pada jenis virusnya. Pada hepatitis A dan E, cara penularannya hampir mirip dengan tipes yaitu pada umumnya terjadi karena pencernaan air minum, makanan yang tercemar, makanan yang tidak dimasak, kebersihan tubuh yang tidak terjaga, dan sanitasi yang buruk. Sedangkan pada hepatitis B cara penularannya 95% terjadi ketika persalinan (hubungan antara ibu dan anak). Akan tetapi juga dapat terjadi dengan melalui transfusi darah, pisau cukur, jarum suntik yang tercemar, tato, atau transplantasi organ. Sementara pad hepatitis C cara penularannya dapat terjadi dengan melalui darah dan cairan tubuh.

Pengobatan penyakit hepatitis dan tipes

Biasanya pada penyakit tipes akan diberikan obat anti biotik oleh dokter, sedangkan pada penyakit hepatitis tergantung pada jenis penyakit hepatitis yang diderita. Penyakit hepatitis A tidak terdapat pengobatan yang khusus, tetapi hanya diberikan pengobatan pendukung serta dijaga keseimbangan gizinya. Sedangkan untuk pengobatan hepatitis tipe B, C, dan D akan diberikan antiviral khusus dan interferon.