Monthly Archives: April 2018

Pemeriksaan SGOT dan SGPT Bagi Penderita Gangguan Hati

Salah satu pemeriksaan medis yang dilakukan yaitu saat seseorang telah mengalami gangguan fungsi hati adalah dengan melakukan tes darah SGOT dan SGPT. Lalu apa yang dimaksud dengan cara pemeriksaan tersebut?

Pemeriksaan SGOT dan SGPT memang berkaitan dengan kesehatan organ hati atau liver. Hal itu biasanya saat seseorang telah mengalami gangguan penyakit hati, maka dokter pun akan menganjurkan tes tersebut.

pemeriksaan sgot dan sgpt bagi penderita gangguan hati

Apa yang dimaksud dengan SGOT dan SGPT?

SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase) merupakan enzim yang biasanya ditemukan pada organ hati (liver), otot, jantung, ginjal dan juga otak. Sedangkan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transaminase) adalah enzim yang banyak terdapat didalam hati, meskipun ada dalam beberapa organ lain, tetapi ada dalam jumlah yang sedikit. Dari kedua enzim tersebut memiliki peran yang sama yaitu dapat membantu mencerna protein didalam tubuh.

Dalam pemeriksaan tersebut akan dilakukan dengan cara mengambil darah pasien. Pada orang yang sehat, dari kedua enzim tersebut biasanya akan terlihat normal. Berikut ini batas normal yang seharusnya dimiliki, yaitu :

  • SGOT : 5-40 µ/L (mikro per liter)
  • SGPT : 7-56 µ/L (mikro per liter)

Perlu diketahui bahwa batas normal SGOT dan SGPT berbeda-beda, dan hal ini tergantung pada setiap teknik dan juga prosedur yang ada saat hasil tes darah yang telah diteliti. Untuk itu, Anda dapat melihat angka normal yang biasanya tertera pada hasil tes darah. Karena dari hasil tersebut, laboratorium akan memberitahukan angka batas normal yang digunakan dan apakah SGOT dan SGPT normal atau tidak.

Penyebab nilai SGOT dan SGPT mengalami peningkatan

Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan nilai SGOT dan SGPT mengalami peningkatan, dan berikut ini merupakan penyebab yang paling umum, diantaranya :

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Selain itu terdapat gangguan kesehatan lainnya yang dapat menyebabkan kondisi seperti ini, diantaranya :

  • Penyakit celiac
  • Penyakit hepatitis yang disebabkan oleh autoimun
  • Terdapat gangguan pada fungsi tiroid
  • Kelebihan zat besi dalam tubuh
  • Irritable bowel syndrome

Apa yang terjadi jika hasil dari SGOT dan SGPT tinggi?

Saat dalam keadaan yang normal, maka SGOT dan SGPT berada didalam sel-sel organ terutama pada bagian sel hati. Ketika organ hati mengalami kerusakan maka kedua enzim tersebut akan keluar dari sel kemudian akan masuk ke dalam pembuluh darah. Sehingga hal ini akan membuat SGOT dan SGPT mengalami peningkatan didalam tubuh.

SGOT yang tidak berada didalam organ hati, jadi saat kadar enzim mengalami peningkatan, maka bukan berarti hanya pada organ hati saja. Sama halnya dengan kadar enzim SGPT meningkat, meskipun kedua enzim ini paling banyak ditemukan di organ hati.

Jika telah diketahui tes darah memang meningkat dan bahkan tidak normal, maka kemungkinan besar akan mengalami gangguan pada fungsi hati. Dan apabila telah terjadi gangguan pada hati, maka akan dilakukan tes darah lainnya yang terkait dengan fungsi hati, seperti :

  • Bilirubin, berfungsi untuk mengetes apakah zat kuning yang ada dalam darah (bilirubin) normal atau tidak.
  • Tingkat albumin, berfungsi untuk apakah tingkat albumin (protein) tubuh normal atau tidak.
  • Tes waktu protombin, merupakan waktu yang dibutuhkan dalam pembekuan darah.

| Pemeriksaan SGOT dan SGPT Bagi Penderita Gangguan Hati

Advertisements

Pengobatan Medis Kemoterapi Untuk Penyakit Kanker Hati

Kemoterapi atau yang sering disebut dengan kemo adalah sebagai pengobatan terhadap kanker untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi sistemik ini digunakan untuk seluruh anggota tubuh. Pada pengobatan ini, obat anti kanker akan disuntikkan atau diberikan secara oral. Dengan menggunakan bahan kimia maka akan masuk ke dalam aliran darah sehingga dapat mempengaruhi pada bagian tubuh lainnya. Kemoterapi sistemik ini tidak digunakan untuk mengobati kanker hati karena keseringan kanker hati menolak obat kemo. Obat-obatan yang paling efektif digunakan sama seperti kemoterapi sistemik pada kanker hati yaitu Doxorubicin (Adriamycin) 5-fluorouracil dan cisplatin.

pengobatan medis kemoterapi untuk kanker hati

Pada obat-obatan kemoterapi dapat mengecilkan hanya sebagian kecil dari tumor. Obat kemo ini sering digunakan untuk mengobati penyakit kanker kedua atau lainnya, atau juga dapat digunakan setelah melakukan operasi atau krioterapi bertujuan untuk menghilangkan sisa sel kanker. Hal ini karena obat kemoterapi bisa mempengaruhi pada banyak bagian, maka dari itu obat ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit kanker yang sudah menyebar ke organ tubuh lain. Selain itu juga dapat digunakan untuk pengobatan paliatif guna untuk memperlambat pada perkembangan penyakit kanker dan mengurangi rasa sakit.

Oleh karena itu kemoterapi sistemik tidak bisa untuk menargetkan sel kanker pada hati, maka hal ini bisa mempengaruhi pada sel sehat dalam tubuh serta menyebabkan dampak yang tidak diinginkan. Dampak dari melakukan kemoterapi ini yaitu mual, muntah, lemas, lelah, rambut menjadi rontok, dan kehilangan nafsu makan. Selain itu, efek dari pengobatan kemoterapi pada tubuh dan tingkat dari keparahannya tergantung pada keseluruhan kesehatan, fungsi hati serta apabila Anda mengalami penyakit sirosis tingkat lanjut.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Transarterial Chemoembolization (TACE)

Kemoembolisasi atau TACE merupakan kombinasi dari kemoterapi dan embolisasi yang berperan untuk membantu menargetkan sel kanker pada hati. Pada pengobatan ini, obat kemo yang akan diberikan langsung pada sel kanker dan disegel dengan embolisasi. Dengan menggunakan pengobatan ini, dokter pun akan bisa menggunakan obat yang lebih kuat tanpa dapat menyebabkan banyak efek samping dari kemoterapi sistemik dengan menargetkan tumor secara langsung. Perlu diketahui bahwa TACE jarang digunakan untuk kanker kedua.

Sebelum prosedur itu dilakukan, maka Anda akan diberikan anestesi lokal dan beberapa obat-obatan sebagai penenang. Kemudian pada selama prosedur itu sedang dilakukan, maka obat kemo tersebut akan disuntkkan dengan melalui kateter, tabung panjang dan juga tipis ke dalam arteri hati. Lalu obat kemo akan dimasukkan kedalam tabung. Pada obat ini akan bergerak ke dalam arteri serta akan berpindah ke area tumor. Gelatin akan dimasukkan ke dalam arteri dengan lebih kecil dan mengarah ke area tumor. Proses penyumbatan arteri ini akan menjaga kemoterapi pada tumor serta menjauhkan kanker dari oksigen dan nutrisi.

Biasanya pada pengobatan ini diberikan hanya sekali atau beberapa bulan sekali. Setiap selesai pengobatan TACE, maka Anda diperlukan untuk tetap berbaring selama beberapa jam atau menginap beberapa hari. Sebelum melakukan pengobatan ini, alangkah baiknya untuk konsultasikan dengan dokter terkait semua pilihan pengobatan untuk penyakit kanker hati. Namun hal itu tergantung dengan kondisi dan tingkat keparahan penyakit kanker yang dialami, karena TACE bisa untuk menjadi pilihan Anda.

| Pengobatan Medis Kemoterapi Untuk Penyakit Kanker Hati

Cara Berkembangnya Hepatitis B Menjadi Kanker Hati Primer

Adanya infeksi hepatitis kronis yaitu penyebab dari 80% kanker hati primer yang terjadi, dan 500.000 jiwa diantaranya mengalami meninggal pada setiap tahunnya akibat dari penyakit kanker yang mematikan. Bahkan hingga saat ini, hanya 10% dari penderita penyakit kanker hati primer dapat bertahan hidup hingga 5 tahun.

Saat ini sudah ditemukan jenis vaksin yang efektif untuk melawan penyakit hepatitis B. Vaksin hepatitis B adalah vaksin pertama yang disebut dengan vaksin anti kanker, karena vaksin tersebut dapat menanggulangi hepatitis B yang sama artinya dengan menanggulangi kanker hati primer yang disebabkan oleh penyakit hepatitis B. Selain itu juga sudah tersedia terapi yang paling efektif untuk mengontrol dan juga membantu pada penderita penyakit hepatitis B kronis supaya terhindar dari kanker hati. Namun vaksin ini tidak dapat membantu untuk melindungi kanker hati yang disebabkan oleh penyakit hepatitis C kronis.

cara berkembangnya hepatitis b menjadi kanker hati primer

Apa yang dimaksud dengan kanker hati primer?

Kanker hati memiliki 2 jenis kanker, yaitu kanker hati primer dan kanker hati sekunder. Kanker hati primer adalah kanker hati yang berasal dari hati, dan sering disebut dengan Hepatocellular Carcinoma (HCC). Sedangkan kanker hati sekunder adalah jenis kanker hati yang berasal dari organ tubuh lain, yang kemudian menyebar ke organ hati. Ternyata di seluruh dunia, kanker hati primer berada di urutan ketiga sebagai penyakit kanker yang paling banyak menyebabkan kasus kematian.

Bagaimana penyakit hepatitis B bisa menyebabkan kanker hati primer?

Seseorang yang telah terinfeksi virus hepatitis B kronis akan sangat mudah terserang penyakit kanker hati. Orang-orang yang sudah terinfeksi hepatitis B akan beresiko lebih besar terserang kanker hati dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi hepatitis B. Hal ini dapat terjadi karena virus hepatitis B akan secara langsung bahkan terus-menerus menyerang hati, dengan seiring berjalannya waktu maka dapat menyebabkan kerusakan pada organ hati sehingga menyebabkan kanker hati.

Resiko terserang penyakit kanker hati akibat mengidap hepatitis B kronis akan semakin meningkat jika penderita sudah berumur atau memang telah terdiagnosis mengidap sirosis hati. Meskipun kanker hati biasanya terjadi setelah sirosis hati muncul, tetapi bukan berarti sirosis hanya merupakan pemicu terserangnya kanker hati tersebut. Dan ternyata kanker hati juga tetap bisa terjadi tanpa adanya penyakit sirosis hati.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Resiko penyakit ini akan semakin tinggi jika penderita memiliki riwayat keluarga yang terserang kanker hati, karena tingginya DNA virus hepatitis B yang terus menyerang, dan bercampur dengan infeksi lainnya seperti hepatitis C atau bahkan HIV, selain itu juga karena dari gaya hidup yang tidak baik seperti sering mengonsumsi minuman alkohol dan merokok. Dari beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa obesitas dan diabetes juga menjadi pemicu terjadinya kanker hati. Perlu diketahui juga bahwa kanker hati lebih sering terjadi pada pria dibandingkan dengan wanita, pada ras serta etnis manapun.

Gejala Kanker Hati

Kanker hati atau yang sering disebut dengan “Silent Killer” karena penderita akan biasa terlihat sehat tanpa gejala masalah kesehatan yang sudah hampr mencapai stadium akhir. Terkadang sebesar atau sekecil apapun ukuran dari tumor di hati tidak akan dapat terdeteksi akibat dari posisi hati yang terlindung oleh tubuh rusuk sehingga penderita tidak akan merasakan sakit.

Bahkan rasa sakit jarang terjadi hingga ukuran tumor benar-benar sudah besar. Saat ukuran tumor sudah besar dan juga disertai dengan fungsi hati yang akan mulai rusak, maka gejala-gejala itu akan mulai muncul pada kanker stadium akhir. Seperti kehilangan nafsu makan, lemas, berat badan menurun, sakit perut, mata dan kulit berwarna kuning, serta perut menjadi bengkak.

Apakah kanker hati diharuskan untuk melakukan screening?

Kanker hati yang akan membunuh secara perlahan-lahan. Maka dari itu bagi penderita hepatitis B sangat dianjurkan untuk melakukan screening kanker hati yaitu melakukan cek rutin medis. Terlebih bagi penderita hepatitis B kronis, screening kanker hati sangatlah penting karena kanker hati bisa menyerang tanpa adanya gejala-gejala muncul sirosis hati sebelumnya. Dengan semakin dini terdeteksi kanker hati, maka akan semakin banyak pilihan dari pengobatan yang dapat diambil sehingga akan membantu untuk meningkatkan bertahan hidup.

Screening kanker hati bisa dilakukan dengan cara tes darah guna untuk mengetahui kadar alpha-fetoprotein (AFP) sebanyak 6 bulan sekali dan melakukan USG setiap 2 bulan sekali dalam setahun.

Lalu bagaimana cara mengobati penyakit kanker hati?

Melakukan pengobatan kanker hati lebih sulit dibandingkan dengan jenis kanker lainnya, hal tersebut dikarenakan biasanya kanker hati disertai dengan kerusakan hati yang disebabkan oleh adanya serangan virus hepatitis B. Para penderita diharuskan untuk menyeimbangkan resiko gagal hati, berbagai macam pilihan pengobatan, serta dampak dari pengobatan itu sendiri. Pengobatan yang sudah ada saat ini termasuk pada operasi, kemoterapi, serta obat yang dapat dikonsumsi secara oral. Sedangkan transplantasi hati adalah pilihan yang terakhir jika tumor kanker tersebut sudah tidak bisa lagi dilakukan dengan operasi.

| Cara Berkembangnya Hepatitis B Menjadi Kanker Hati Primer

Benarkah Pria Yang Menderita Hepatitis B Beresiko Tidak Subur?

Hepatitis B adalah salah satu masalah pada kesehatan tubuh. Menurut data yang menunjukkan bahwa pada saat ini terdapat jutaan orang yang pernah atau terserang virus hepatitis B. Akibat dari penyakit ini bukan hanya buruk pada kesehatan hati saja, tetapi juga pada kesuburan bagi pria. Apakah benar pria pengidap hepatitis B beresiko pria tidak subur?

benarkah pria yang menderita hepatitis b beresiko tidak subur

Apa yang menyebabkan pria menjadi tidak subur akibat penyakit hepatitis B?

Saat virus hepatitis B menyerang pada organ hati (liver), maka ada berbagai gejala yang akan terjadi, seperti gejala yang paling umum terjadi pada hepatitis B yaitu demam, mual, muntah-muntah, serta terjadinya perubahan warna kulit dan mata menjadi menguning.

Sedikit orang yang mengetahui jika dampak dari hepatitis B ternyata dapat menyerang pada kesuburan pria. Akan tetapi, masih belum banyak orang yang mengetahui bahwa virus tersebut juga dapat menyerang pada sel sperma dan juga organ reproduksi pria.

  • Dapat merusak pada tempat pembuatan energi di sel sperma

Sama halnya seperti pada sel-sel tubuh lainnya, sel sperma juga membutuhkan energi bertujuan untuk membuatnya berenang dan bergerak dengan cepat. Ketika virus sudah memasuki kedalam tubuh, maka virus akan langsung merusak pada tempat pembuatan energi di dalam sel tersebut. Maka hal ini akan membuat sperma menjadi tidak mendapatkan energi yang cukup untuk melakukan pergerakan mencapai sel telur, sehingga peluang untuk terjadinya pembuahan menjadi semakin kecil.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

  • Dapat memicu kematian pada sel sperma

Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan bahwa dampak dari penyakit hepatitis B pada sistem reproduksi pria dapat memicu pada sel sperma sehingga dapat merusak dirinya sendiri bahkan terjadi kematian. Para ahli juga menduga hal ini dapat terjadi karena virus hepatitis B dapat menimbulkan radikal bebas sehingga akan mampu merusak pada sel sperma.

Efek samping penyakit hepatitis B terhadap sperma

Terdapat beberapa hal yang dapat terjadi akibat dari efek samping penyakit hepatitis B terhadap sperma, diantaranya :

  • Volume air mani

Perlu diketahui bahwa didalam sekali ejakulasi, volume air mani yang normal yaitu minimal 1,5 mililiter. Sedangkan pada penyakit hepatitis B ini dapat menurunkan volume cairan tersebut sehingga akan mengganggu pada proses reproduksi yang optimal. Air mani memiliki beberapa macam enzim yang berperan untuk membantu sperma dalam melakukan pembuahan pada sel telur. Apabila volume cairan tersebut berkurang, maka kesempatan untuk terjadi pembuahan akan semakin kecil.

  • Jumlah sel sperma

Karena terdapat infeksi virus hepatitis B maka akan membuat sel-sel sperma menjadi mati. Hal ini tentu saja akan menurunkan jumlah sel sperma yang dapat dihasilkan oleh pria ketika melakukan ejakulasi. Sehingga akan mengakibatkan yang mungkin terjadi pembuahan pada sel telur juga akan berkurang.

  • Bentuk sperma

Adanya infeksi virus hepatitis B juga dapat mempengaruhi pada bentuk normal sel sperma, salah satunya yaitu akibat dari gen sperma yang dirusak oleh virus hepatitis. Padahal sebenarnya bentuk sperma telah dirancang sedemikian rupa supaya mampu untuk bergerak dan bertahan hidup sehingga proses pembuahan pun akan terjadi.

  • Ketahanan sel sperma

Normalnya sel sperma memiliki waktu yang cukup lama untuk bertahan hidup. Pada kemampuan ini dirancang supaya sperma mampu untuk hidup lebih lama, sehingga akan membuahi sel telur. Tetapi pada virus hepatitis ini akan memproduksi racun yang akhirnya akan membuat pada kemampuan sperma menjadi berkurang.

Maka dari itu bagi pria usia subur yang pernah mengalami penyakit hepatitis B atau yang sedang terinfeksi penyakit hepatitis B sebaiknya jangan khawatir secara berlebihan. Karena tidak semua pria yang mengidap penyakit hepatitis B ini akan mengalami kurang subur.

Tubuh manusia yang diciptakan dengan sedemikian canggih sehingga akan memiliki pertahanan terhadap benda asing berlapis-lapis. Oleh karena itu harus diimbangi efek negatif infeksi hepatitis B dengan cara meningkatkan daya tahan tubuh seperti dengan melakukan aktivitas olahraga serta mengonsumsi makanan yang bergizi.

| Benarkah Pria Yang Menderita Hepatitis B Beresiko Tidak Subur?

Bolehkah Ibu Yang Menderita Hepatitis Menyusui Bayi?

ASI merupakan makanan bayi yang paling baik dikonsumsi, selama kurang lebih 2 tahun pertamanya. ASI yang memiliki berbagai kandungan zat gizi yang sangat diperlukan oleh sang anak guna untuk menunjang tumbuh kembang serta terdapat zat antibodi di dalam ASI tersebut, sehingga akan membuat bayi menjadi terlindungi dari berbagai zat asing, bakteri serta virus. Tetapi bagaimana saat ASI yang seharusnya melindungi dan juga menjaga bayi terdapat suatu penyakit infeksi yang malah menjadi perantara virus antara ia dan ibunya? Apakah aman ibu yang menderita penyakit hepatitis menyusui bayinya?

bolehkah ibu yang menderita hepatitis menyusui bayi

Apakah penyakit hepatitis akan menular melalui ASI?

Hepatitis adalah salah satu penyakit infeksi yang bersifat menular. Penyakit hepatitis ini lebih terkena di Indonesia dengan nama penyakit kuning, hal tersebut dikarenakan memiliki salah satu gejala tubuh dan kulit menjadi menguning. Penyakit hepatitis memiliki berbagai jenis, tergantung dari proses penularannya dan tingkat keparahannya. Hepatitis memiliki 5 jenis hepatitis yaitu A, B, C, D, dan E. Dari semua penyakit hepatitis tersebut memiliki cara penularannya sendiri. Pada hepatitis A dan E ditularkan dengan melalui fecal-oral, sedangkan pada hepatitis B dan C cara penularannya hampir sama dengan penyakit HIV/AIDS yakni dengan melalui pertukaran suatu cairan didalam tubuh seperti darah dan air liur. Hepatitis yang mungkin ditularkan yaitu hepatitis A, B dan C.

Maka dari itu, bagi ibu yang menderita penyakit hepatitis kemungkinan bisa menularkan virus hepatitis tersebut pada anaknya dengan melalui berbagai hal termasuk menyusui.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Menyusui ketika mengidap penyakit hepatitis A

Hepatitis A merupakan jenis penyakit hepatitis yang paling sering terjadi dan dapat menular dengan melalui kontaminasi makanan, air minum, serta dari orang ke orang. Pada penyakit ini ditandai dengan timbulnya gejala kehilangan nafsu makan, mual, muntah, demam, dan penyakit kuning. Sebenarnya bayi baru lahir jarang mengidap hepatitis. Selain itu juga, penyakit hepatitis A jarang menjadi akut dan fatal, serta tidak bisa menjadi penyakit yang kronis.

Pada umumnya, sang ibu bisa memberikan ASI pada bayi dan tidak perlu khawatir terjadi penularan, karena hepatitis A tidak menular dengan melalui ASI dan tidak ditemukan virus hepatitis A didalam ASI.

Menyusui ketika mengidap penyakit hepatitis B

Hepatitis B merupakan jenis penyakit hepatitis yang bisa ditularkan dengan melalui kontak seksual, sama halnya seperti pada penyakit HIV/AIDS. Pada seorang bayi baru lahir bisa saja terkontaminasi dengan virus hepatitis B yang disebabkan terkena darah ibu yang terkontaminasi saat ia lahir. Tanda-tanda yang muncul yaitu kulit dan mata akan berubah menjadi menguning, kehilangan nafsu makan, mual dan muntah, serta campak. Penyakit hepatitis B ini dapat berkembang menjadi penyakit yang kronis bahkan dapat mengakibatkan gangguan pada hati yang lebih parah seperti sirosis dan kanker hati.

Hepatitis B ini berbeda dengan hepatitis A, yang telah terbukti didalam ASI. Bayi dapat terlindungi dari adanya virus hepatitis B apabila bayi telah diberikan vaksinasi hepatitis B. Karena vaksin tersebut akan lebih baik diberikan ketika setelah bayi dilahirkan, sehingga akan melindungi bayi yang memang beresiko terkena penyakit hepatitis B atau tidak.

Apabila sang ibu telah positif menderita penyakit hepatitis B, maka diharuskan untuk segera memberikan vaksin hepatitis B pada anak 12 jam pertama setelah kelahiran, lalu saat bayi yang berusia 1 atau 2 bulan dan berusia 6 bulan. Ketika bayi sudah berusia 9 hingga 18 bulan, maka diharuskan pemeriksaan lagi pada dokter guna untuk menangani apakah terkena virus hepatitis B positif.

Menyusui ketika mengidap penyakit hepatitis C

Berbeda dengan jenis penyakit hepatitis lainnya. Pada penyakit hepatitis C ini akan menimbulkan gejala apapun. Pada beberapa kasus yang telah terjadi, gejala yang timbul hanya datang lalu menghilang. Rata-rata sekitar dari penderita 50% penderita hepatitis C adalah orang yang pernah mengalami atau memiliki riwayat penyakit sirosis atau penyakit hati kronis lainnya. Virus hepatitis C yang tertular dengan cara melalui kontak cairan tubuh yang mengalami penyakit hepatitis C. Melakukan aktivitas seksual, pemakaian obat-obatan terlarang yang menjadi sarana penularan hepatitis C, dan menggunakan jarum secara bergantian.

Seorang ibu yang mengalami penyakit hepatitis C, tidak akan ditemukan virus hepatitis C didalam ASI. Akan tetapi Centers for Disease Control Prevention telah menganjurkan bahwa untuk berhenti memberhentikan ASI apabila puting pada ibu telah mengalami luka atau berdarah. Karena hal tersebut dikhawatirkan virus hepatitis C dapat menular dengan melalui darah.

Related post :

| Bolehkah Ibu Yang Menderita Hepatitis Menyusui Bayi?