Monthly Archives: May 2018

Cara Mengatur Pola Makan Untuk Penderita Hepatitis C

Hepatitis C merupakan kondisi peradangan hati kronis yang dapat mempengaruhi pada cara tubuh untuk memproses nutrisi. Itu sebabnya cara untuk memilih dan merancang menu makanan bagi penderita penyakit hepatitis tidak boleh sembarangan. Dengan asupan makanan yang tepat maka akan membantu hati untuk bekerja lebih baik sehingga akan menurunkan risiko penyakit hepatitis c yang berkembang menjadi kerusakan hati lainnya yang lebih parah.

cara mengatur pola makan bagi penderita hepatitis c

Ternyata penyakit hepatitis C dapat mempengaruhi pada pola makan seseorang, baik pada gejalanya maupun dari efek obat yang digunakan, sehingga dapat mempengaruhi secara langsung pada pola makan penderita. Obat hepatitis C dapat menyebabkan mual sehingga akan menurunkan nafsu makan, seperti rasa nyeri pada bagian mulut dan tenggorokan akibat dari infeksi yang dapat menyebabkan Anda menjadi malas untuk makan. Pada infeksi tersebut juga akan mengganggu pada cara kerja hati dalam mengolah nurtisi.

Meskipun penyakit ini akan menghambat tubuh untuk mendapat asupan yang cukup nurtisi, tetapi Anda juga harus tetap menjalani pola makan yang sehat guna untuk memulihkan daya tahan tubuh dalam melawan infeksi. Dengan melakukan pola makan yang tepat juga dapat diperlukan untuk mencegah sirosis hati pada penderita hepatitis C.

Sirosis hati dapat berkembang dari hepatitis yang akan menyebabkan hilangnya nafsu makan sehingga tubuh akan lemas dan kekurangan energi, ataupun sebaliknya, tubuh akan merasakan lemas akibat dari sirosis yang akan membuat Anda menjadi malas untuk makan. Selain itu hepatitis dapat menyebabkan Anda mengalami penurunan berat badan dengan tanpa disadari sehingga dapat berisiko memperburuk kondisi Anda.

Berikut ini makanan yang harus dihindari bagi penderita hepatitis C

  • Makanan tinggi lemak

Meskipun tubuh membutuhkan lemak sebagai energi, tetapi terlalu banyak makanan yang berlemak dapat menyebabkan kelebihan lemak sehingga menumpuk di bagian hati (perlemakan hati). Perlemakan hati tersebut dapat berkembang menjadi sirosis. Namun tidak semua jenis lemak harus dihindari. Akan tetapi jauhilah lemak jenuh dan lemak trans yang banyak terkandung pada makanan kemasan dan makanan cepat saji. Contoh makanan tinggi lemak jenuh yaitu mentega, susu dan produk hewani.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

  • Makanan tinggi garam

Hati yang tidak berfungsi lagi akibat dari hepatitis tidak bisa untuk membilas garam keluar dari tubuh sepenuhnya. Sehingga mengakibatkan garam menumpuk dalam tubuh dan akhirnya akan meningkatkan tekanan darah. Tekanan darah tinggi akan menempatkan pada risiko yang lebih tinggi terhadap perlemakan hati.

Untuk batas maksimal konsumsi garam dalam satu hari bagi orang dewasa yang sehat yaitu 5 gram garam atau setara dengan 1 sendok teh. Sedangkan pada penderita hepatitis, dianjurkan untuk harus lebih menguranginya. Tidak hanya itu, tetapi juga harus mengurangi asupan garam dari makanan olahan seperti makanan kaleng, sosis, nugget, daging kalengan (sarden atau kornet), hingga sayuran kaleng yang biasanya sangat tinggi garam. Sebaiknya untuk selalu konsultasikan pada dokter mengenai obat-obatan yang dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

  • Makanan tinggi gula

Bagi penderita hepatitis tidak boleh mengonsumsi makanan yang tinggi gula. Makanan yang manis dapat menyebabkan gula darah penderita hepatitis menjadi meningkat drastis. Dengan mengurangi gula bertujuan untuk mencegah diabetes muncul sebagai suatu komplikasi hepatitis, saat hati tidak lagi berfungsi baik untuk mengatur pada kadar gula darah dan juga produksi insulin. Lebih baik ganti camilan manis dengan buah dan sayuran yang manis alami.

  • Makanan yang mengandung zat besi tinggi

Terjadinya kerusakan hati disebabkan oleh adanya infeksi hepatitis kronis yang dapat menyebabkan tubuh menjadi tidak bisa membuang kelebihan zat besi. Zat besi yang menumpuk berlebihan didalam tubuh pada akhirnya akan merusak darah dan organ dalam lainnya. Maka dari itu, kebanyakan maknaan bagi penderita hepatitis tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi. Sebaiknya batasi atau hindari makanan seperti daging merah, hati hewan, dan juga makanan lainnya yang diperkaya dengan zat besi.

  • Makanan yang masih mentah

Pada makanan yang kurang matang juga berisiko terhadap kontaminasi bakter. Bakteri pada makanan mentah seperti sushi, telur setengah matang, atau susu dan keju yang tidak diparteurisasi dapat menyebabkan infeksi hepatitis C menjadi bertambah parah.

| Cara Mengatur Pola Makan Untuk Penderita Hepatitis C

Related post : Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Advertisements

Berbagai Penyebab Penyakit Kuning Pada Orang Dewasa

Penyakit kuning sering dikaitkan pada bayi baru lahir. Namun, apakah penyakit kuning dapat terjadi pada orang dewasa? Perlu diketahui, biasanya kulit dan pada bagian mata akan berubah menjadi warna kuning. Untuk lebih lengkapnya mari kita bahas mengenai penyakit kuning pada orang dewasa beserta penyebabnya.

penyebab penyakit kuning pada orang dewasa

Apa itu penyakit kuning?

Penyakit kuning atau yang disebut dengan Jaundice adalah suatu kondisi yang membuat kulit menjadi kuning. Bagian warna putih pada mata akan berubah menjadi kuning. Bahkan pada kasus yang sangat parah, warna putih pada mata juga akan berubah menjadi coklat atau orange. Biasanya penyakit kuning ini sering kali dialami oleh bayi baru lahir, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang dewasa juga bisa mengalami kondisi tersebut.

Penyakit kuning yang disebabkan oleh suatu zat yang disebut dengan bilirubin yang berlebihan dalam darah dan jaringan tubuh. Bilirubin adalah pigmen kuning yang terbentuk dari sel darah merah yang mati di bagian hati. Normalnya, hati dapat menghilangkan bilirubin bersama dengan sel darah merah tua. Dengan kondisi apapaun yang dapat mengganggu pada perpindahan bilirubin dari darah ke bagian hati ataupun keluar dari tubuh maka dapat menyebabkan penyakit kuning.

Gejala Penyakit Kuning

Penyakit kuning dapat diindikasikan sebagai suatu maslaah yang cukup serius bagi fungsi sel darah putih, hati, pankreas atau kandung empedu. Selain terjadi perubahan pada mata dan kulit, ada tanda lainnya yaitu bisa berupa mengeluarkan urine berwarna gelap dan tinja berwarna pucat. Namun jika Anda merasa penyakit kuning disebabkan oleh penyakit hepatitis, maka Anda akan mengalami gejala lainnya seperti lemah dan mual

Akan tetapi, meskipun warna kulit berubah menjadi kuning, namun tidak semua kondisi tersebut yang mengacu pada perubahan yang dapat diidentifikasi sebagai penyakit kuning. Bahkan pada beberapa orang salah mendiagnosis saat mereka mengalami kulit yang berubah menjadi kuning. Berdasarkan salah satu penderita yang mengalami kondisi seperti ini, dan ketika seseorang mengidapnya, maka kemungkinan perubahan warna kuning tersebut ditemukan pada mata dan kulit yang secara bersamaan. Apabila Anda memiliki kulit kuning saja, mungkin kondisi tersebut disebabkan oleh kelebihan beta karoten pada sistem tubuh Anda.

Beta karoten merupakan kandungan antioksidan yang biasanya dapat ditemukan pada sayuran yang berwarna kuning atau orange seperti wortel, lebak dan ubi. Pada makanan yang terlalu banyak kandungan beta karoten dapat mengubah warna kulit hanya sementara, makan sayuran tersebut secara berlebihan tidak akan membuat Anda terkena penyakit kuning.

| Artikel terkait : Obat Penyakit Kuning

Penyebab Penyakit Kuning Pada Orang Dewasa

Hati yang mengalami kerusakan maka tidak dapat memproses bilirubin. Bilirubin tidak dapat masuk ke bagian pencernaan sehingga akan dibuang melalui buang air besar. Tetapi pada kasus lainnya, banyak bilirubin yang mencoba masuk ke bagian hati ketika bersamaan. Pada kondisi seperti ini maka dapat menyebabkan masalah kesehatan pada tubuh. Ada beberapa macam penyakit kuning, namun hal ini tergantung pada bagian tubuh yang terkena dampak dari pergerakan bilirubin tersebut. Berikut ini berbagai penyebab penyakit kuning pada orang dewasa :

Penyakit kuning pre-hepatik

Pada kondisi ini akan muncul saat terjadi infeksi yang akan mempercepat kerusakan sel darah merah. Pada kerusakan tersebut maka dapat menyebabkan peningkatkan bilirubin dalam darah, sehingga akan memicu pada penyakit kuning. Hal yang dapat menyebabkan penyakit kuning pre-hepatik yaitu :

  • Malaria – pada infeksi ini akan menyebar pada dalam tubuh
  • Anemia sel sabit – yaitu gangguan darah yang diturunkan dibagian sel darah merah yang berbentuk tidak normal. Bahkan thalassemia juga dapat memicu terjadinya penyakit kuning.
  • Sindrom Crigler-Najjar – yaitu sindrom genetik yang dimana tubuh kehilangan enzim yang dapat membantu memindahkan bilirubin dari darah.
  • Spherocytosis yang diturunkan – pada kondisi genetik seperti ini yang menyebabkan sel darah merah terbentuk tidak normal sehingga pada sel tersebut tidak akan bertahan lama.

Penyakit kuning post-hepatik

Pada kondisi ini biasanya dapat dipicu saat saluran empedu mengalami kerusakan, meradang atau terhambat. Sehingga mengakibatkan kandung empedu tidak akan mampu untuk memindahkan empedu ke bagian sistem pencernaan. Hal yang dapat menyebabkan kondisi tersebut meliputi :

  • Batu empedu – dapat menghalangi pada sistem saluran empedu kanker pankreas
  • Pankreatitis atau kanker kandung empedu – terjadinya peradangan pankreas yang dapat menyebabkan pankreatitis akut (berlangsung selama beberapa hari) atau pankreatitis kronis (berlangsung selama beberapa tahun)

Penyakit kuning intra-hepatik

Pada penyakit kuning ini terjadi saat ada permasalahan di bagian hati, seperti terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh adanya infeksi atau alkohol. Maka hal ini dapat mengganggu pada kemampuan organ hati untuk memproses bilirubin. Berikut ini kemungkinan yang akan terjadi penyebab dari penyakit ini, yaitu :

  • Virus hepatitis A, B, C
  • Penyakit hati (kerusakan hati) yang disebabkan oleh terlalu banyaknya minuman alkohol
  • Leptospirosis – infeksi ini akan menular melalui binatang seperti tikus
  • Demam glandular – infeksi yang disebabkan oleh adanya virus Epstein-Barr, artinya virus ini dapat ditemukan pada ludah orang yang telah terkena infeksi dan akan menyebar melalui ciuman, batuk, dan berbagai alat makanan yang tidak dicuci
  • Penyalahgunaan obat-obatan – seperti mengonsumsi paracetamol atau ekstasi secara berlebihan
  • Sindrom Gilbert – pada sindrom genetik umum ini yang dimana hati memiliki suatu masalah dalam mengurai bilirubin dalam tingkat yang normal
  • Primary biliary cirrhosis (PBC) – pada kondisi ini jarang ditemukan dan dapat menyebabkan kerusakan hati lebih lanjut
  • Kanker hati
  • Pemakaian zat secara berlebihan yang dapat menyebabkan kerusakan hati, seperti fenol (digunakan di tempat pembuatan plastik), karbon tetraklorida (seperti proses pendinginan)
  • Hepatitis autoimun – pada kondisi ini jarang terjadi yang dimana sistem kekebalan tubuh akan menyerang hati

Cara mendiagnosis penyakit kuning, Dokter pun akan memberikan tes bilirubin guna untuk mengetahui berapa jumlahnya yang ada didalam darah. Apabila seseorang mengalami penyakit kuning, tingkat bilirubin pun akan tinggi. Ada beberapa tes yang dapat dilakukan yaitu melakukan tes fungsi hati, complete blood count (CBC) yaitu dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang tersebut memang terbukti mengalami anemia hemolitik dan biopsi hati.

Sebenarnya penyakit kuning ini bukan termasuk ke dalam penyakit, tetapi merupakan gejala dari penyakit yang dialami. Maka untuk mengobatinya, Anda pun harus mengetahui akar dari kondisi tersebut. Apabila Anda mengidap penyakit hepatitis, maka kulit akan berubah dan cara mengtatasinya juga yaitu dengan mengobati penyakit hepatitis tersebut.

| Berbagai Penyebab Penyakit Kuning Pada Orang Dewasa

Rekomendasi Berbagai Jenis Vaksin Untuk Lansia

Pasalnya sistem imunitas tubuh akan semakin lemah dengan seiring bertambahnya usia. Hal ini menyebabkan para orang tua akan lebih rentan mengalami infeksi dan sakit. Vaksin atau imunisasi dapat menjadi cara yang tepat untuk mencegah para lansia tertular mengalami penyakit supaya bisa lebih produktif di masa senjanya. Karena tidak hanya pada anak-anak saja yang membutuhkan imunisasi, tetapi para lansia pun juga membutuhkannya. Apa saja sih vaksin yang dapat digunakan untuk para lansia? Simak selengkapnya dibawah ini.

rekomendasi berbagai jenis vaksin untuk lansia

Vaksin yang terbuat dari mikroba penyebab penyakit baik itu virus, bakteri, jamur, atau racun (tergantung dari jenis penyakit yang ingin dicegah) yang telah dilemahkan atau bahkan mati sehingga tidak akan menyebabkan penyakit.

Vaksin yang bekerja didalam tubuh akan meniru terjadinya infeksi penyakit tersebut untuk memicu sistem imun tubuh dalam membangun perlawanan terhadapnya. Hal ini akan membuat tubuh menjadi selalu siap pada serangan penyakit yang sebenarnya karena sudah mengenal osganisme mana yang berbahaya dan juga yang perlu untuk diberantas.

Berikut ini ada beberapa jenis vaksin yang direkomendasikan untuk para lansia :

1. Vaksin Flu

Ternyata flu juga bisa mematikan jika gejalanya terus dibiarkan. Sistem imun pada lansia yang sudah lebih lemah, sehingga flu akan lebih sulit lama untuk sembuhnya. Pada beberapa kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes dan penyakit jantung juga akan melemah daya tahan tubuhnya, sehingga dapat memperburuk flu bahkan dapat menyebabkan suatu komplikasi seperti pneumonia.

Virus influenza dapat dicegah dengan melakukan vaksin flu yang dapat didapatkan sebanyak satu kali setiap tahunnya. Tubuh lansia juga membutuhkan waktu sekitar dua minggu untuk merespons vaksin dan juga membangun sistem kekebalan tubuhnya.

2. Vaksin Pneumococcal

Pada vaksin ini bertujuan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi bakteri yaitu Streptocossus pneumoniae atau yang disebut dengan kuman pneumokokus. Vaksin Pneumococcal yang berperan untuk mencegah pneumonia (infeksi paru-paru), meningitis (infeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang), dan sepsis (infeksi darah).

Adanya penyakit akibat dari bakteri pneumokokus dapat menyebabkan ketulian, rusaknya otak, kehilangan anggota tubuh, bahkan kematian. Biasanya vaksin untuk lansia ini diberikan dalam dua tahaop, yaitu vaksin pneumokokus jenis konjugasi dan vaksin pneumokokus yang berjenis polisakarida.

3. Vaksin Hepatitis B

Hepatitis B adalah suatu infeksi virus yang menular dan bisa menyebabkan kerusakan pada organ hati. Vaksin hepatitis B ini memang dibutuhkan pada lansia karena organ hati dan fungsinya sudah mengalami penurunan akibat dari penuaan alami, sehingga akan membuatnya menjadi rentan mengalami infeksi virus.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Seorang lansia yang juga rentan tertular penyakit hepatitis B akan sudah lebih dulu memiliki penyakit hemofilia, diabetes, ginjal, dan penyakit lainnya yang dapat menyebabkan daya tahan tubuh menjadi melemah. Pada umumnya vaksin hepatitis B ini sudah diberikan sejak bayi sebanyak tiga atau empat rangkaian suntukan selama enam bulan. Tetapi jika anda tidak yakin bahwa anda sudah mendapatkan vaksin ini atau belum, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan vaksin lagi.

4. Vaksin Herpes Zoster

Vaksin herpes zoster akan terjadi jika seseorang yang sudah pernah mengalami cacar air di masa mudanya. Virus cacar air ini akan terus berdiam dalam tubuh selama bertahun-tahun, bahkan akan kambuh di kemudian hari dalam versi cacar ular alias herpes zoster, setelah Anda sembuh. Perlu diketahui bahwa cacar air atau cacar ular (herpes zoster) ternyata sama-sama disebabkan oleh satu virus yaitu Varicella virus.

Virus ini akan terus bertambah dengan seiring kekebalan tubuh pada lansia menjadi lemah. Pada umumnya komplikasi yang akan terjadi pada penyakit ini adalah neuralgia postherpetik yang ditandai dengan rasa nyeri kronis selama berbulan-bulan setelah kondisi herpes zoster akut. Maka itu sebabnya lansia juga perlu mendapatkan vaksin herpes zoster jika belum pernah mendapatkannya. Dan vaksin ini diberikan kepada orang yang telah memasuki usia kurang lebih 50 hingga 60 tahun, baik dalam keadaan sehat maupun sedang mengalami herpes zoster sekalipun. Kemanjuran pada vaksin ini akan bertahan selama kurang lebih 5 tahun.

| Rekomendasi Berbagai Jenis Vaksin Untuk Lansia

Baca juga :