Ketahui Penyebab Dari Penderita Hepatitis Mengalami Hipertensi

Hepatitis dan hipertensi merupakan dua kondisi kesehatan yang cukup banyak dialami oleh kalangan masyarakat Indonesia. Tetapi pada kedua penyakit tersebut memiliki gejala yang berbeda, namun kedua penyakit tersebut bisa saling berhubungan satu sama lain. Simak penjelasannya disini.

hubungan antara penyakit hepatitis dan hipertensi

Sekilas Tentang Hepatitis

Hepatitis adalah suatu infeksi peradangan yang terjadi pada organ hati. Ada banyak hal yang menjadi penyebab dari terjadinya hepatitis, dan biasanya disebabkan oleh adanya virus yang terbagi menjadi 5 kelompok dari A sampai E. Hepatitis virus yang akan menyebar dikarenakan terdapat paparan terhadap darah ataupun cairan tubuh yang mengalami infeksi, seperti cairan vagina dan air mani. Kebersihan dan sanitasi yang buruk, serta adanya infeksi HIV yang dapat meningkatkan resiko berkembangnya hepatitis virus. Selain itu, hepatitis juga dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan yang dapat merusak organ hati, mengonsumsi minuman alkohol secara berlebihan dan autoimun.

Pada umumnya gejala yang akan terjadi dari penyakit hepatitis yaitu rasa mual, kelelahan, nafsu makan berkurang, rasa tidak nyaman pada bagian perut karena mengalami nyeri pada hati, urine berubah warna menjdi kuning, kulit dan bagian putih mata menguning, serta akan mengalami penurunan berat badan.

Jika kondisi tersebut tidak segera diobati, maka lama kelamaan akan berkembang menjadi kondisi kronis. Biasanya hepatitis akan disebut kronis ketika sudah terjadi lebih dari 6 bulan. Apabila kondisi tersebut tidak membaik, maka bisa berujung pada fibrosis atau sirosis hati.

Artikel terkait : Obat Hepatitis 

Sekilas Tentang Hipertensi

Hipertensi sistemik atau tekanan darah tinggi dapat terjadi ketika tekanan darah di seluruh tubuh naik, sistolnya hingga 140 keatas dan diastolnya 90 keatas. Penyakit hipertensi dibedakan menjadi dua jenis, hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Pada hipertensi primer yaitu peningkatan tekanan darah yang belum masih belum diketahui penyebabnya. Sedangkan pada hipertensi sekunder merupakan hipertensi yang disebabkan oleh adanya penyakit lain.

Lalu bagaimana hubungan antara hepatitis dan hipertensi?

Pada penyakit hepatitis kronis dapat berujung pada sirosis atau yang disebut dengan fibrosis hati. Sirosis terjadi karena adanya jaringan hati yang mengeras sehingga akan menyebabkan hati menjadi tidak bisa berfungsi dengan baik. Apabila kondisi sirosis sudah terlalu parah, maka akan benar-benar tidak berfungsi bahkan dapat menyebabkan hipertensi portal.

Hipertensi portal akan terjadi jika darah sudah tidak bisa mengalir dengan baik di area hati dan terdapat tekanan yang lebih pada bagian pembuluh vena portal menujug organ tersebut. Pada umumnya hipertensi disebabkan oleh adanya hepatitis B dan hepatitis C. Dan inilah yang menghubungkan antara hepatitis dan hipertensi.

Pada umumnya kondisi hipertensi portal disebabkan oleh adanya sirosis hati yang berbeda dengan kondisi hipertensi. Kondisi hipertensi portal merupakan adanya peningkatan tekanan pada pembuluh darah di bagian porta sehingga penderita sirosis hati akan memiliki riwayat muntah darah, kaki bengkak, atau feses hitam. Sementara kondisi hipertensi yang sering dibutuhkan pada umumnya merupakan suatu kondisi yang dimana tekanan darah seluruh tubuh mengalami peningkatan dari kadar normal.

Hepatitis dapat dicegah jika tekanan darah tinggi terkontrol dengan baik. Hipertensi yang dikontrol terbukti dapat memperlambat pada perkembangan hepatitis. Didalam sebuah studi juga yang telah dilakukan oleh Parrili bahwa hepatitis kronis bisa berhubungan dengan hipertensi. Bagi penderita hipertensi maka akan memiliki peluang untuk terkena hepatitis dibandingkan dengan mereka yang mengalami tekanan darah tidak terkontrol.

Pada dasarnya hepatitis masih bisa disembuhkan dengan cara pengobatan yang ketat, sehingga bisa terhindar dari berbagai macam komplikasi termasuk pada sirosis hati. Jika seseorang mengalami kedua kondisi tersebut, sebaiknya untuk segera konsultasikan pada dokter. Perlu diingat dan diketahui bahwa, lakukan pola hidup yang sehat dan baik, dengan menjaga pola makan dan melakukan aktivitas fisik secara teratur sehingga Anda dapat mengontrol tekanan darah Anda.

| Ketahui Penyebab Dari Penderita Hepatitis Mengalami Hipertensi

Advertisements

Apa Sih Perbedaan Sirosis Hati dan Hepatitis?

Penyakit hepatitis ataupun sirosis hati termasuk penyakit hati kronis yang dapat mengganggu kesehatan tubuh manusia. Meskipun keduanya merupakan penyakit yang dapat menyerang organ hati, akan tetapi kedua penyakit tersebut berbeda. Lalu apa perbedaan dari penyakit sirosis hati dan hepatitis? Penyakit manakah yang lebih berbahaya?

Penyakit hepatitis dan sirosis hati sama-sama dapat menyebabkan organ hati mengalami peradangan atau pembengkakan yang pada akhirnya mengalami kerusakan. Dari penyakit keduanya merupakan jenis penyakit yang dapat menyebabkan suatu komplikasi sangat buruk seperti akan menimbulkan luka permanen pada hati, bahkan mengalami kanker hati. Dari pemicu kedua penyakit tersebut juga hampir mirip. Keduanya dapat disebabkan oleh seringnya mengonsumsi minuman alkohol atau penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu yang panjang.

perbedaan hepatitis dan sirosis hati

Tanda dan Gejala Hepatitis dan Sirosis Hati

Gejala yang akan muncul dari penyakit hepatitis dan sirosis hati juga hampir mirip, diantaranya :

Tanda dari kedua penyakit ini yaitu mengalami perubahan bagian kulit dan bola mata menjadi menguning. Jika Anda mengalami kondisi tersebut, kemungkinan Anda sedang mengalami gangguan pada fungsi hati.

Pada kondisi seperti ini terjadi gangguan pada fungsi hati. Biasanya kondisi ini akan diiringi dengan gejala sulit untuk bernafas dikarenakan adanya cairan yang menumpuk pada sekitar perut.

  • Gatal pada permukaan kulit

Hal ini diakibatkan karena zat bilirubin yang masuk kedalam aliran darah sehingga akan muncul dibawah permukaan kulit. Biasanya gejala tersebut akan diiringi dengan bercak-bercak berwarna kemerahan.

  • Kaki bengkak

Terjadinya pembengkakan pada kaki dapat disebabkan oleh penumpukan cairan pada sekitar kaki (edema). Pada hal ini akan menunjukkan bahwa aliran darah didalam tubuh mengalami gangguan.

  • Mengalami tanda-tanda lainnya seperti mual, muntah, susah tidur, bahkan hilang kesadaran.

Berikut ini perbedaan hepatitis dan sirosis hati

Dari kedua penyakit tersebut memiliki peluang kesembuhan yang berbeda. Pada kebanyakan kasus yang terjadi, hepatitis dapat disembuhkan, apalagi jika kondisinya berhasil terdeteksi sejak dini. Sedangkan pada sirosis hati merupakan suatu infeksi yang kronis yang dapat menyebabkan organ sudah memiliki banyak luka dimana-mana sehingga kemungkinan tidak bisa disembuhkan seperti sebelumnya.

Pengobatan yang dilakukan dari kedua penyakit tersebut juga akan berbeda karena pada tingkat keparahannya juga berbeda. Biasanya seseorang yang mengalami hepatitis akan diberikan obat dan istirahat yang cukup. Tetapi hal tersebut juga tergantung pada jenis hepatitis yang diderita. Sedangkan seseorang yang mengalami sirosis hati, biasanya akan menjalani pengobatan dengan melalui operasi atau bahkan melakukan transplantasi hati (cangkok hati).

Penyakit manakah yang lebih berbahaya?

Pada dasarnya, kedua penyakit antara hepatitis dan sirosis hati ini dapat menyebabkan komplikasi bagi tubuh yaitu kanker hati. Tetapi, jika pada seseorang yang mengalami penyakit hepatitis maka tingkat kesembuhannya cukup besar, tergantung pada penyebab penyakit.

Sedangkan pada sirosis hati merupakan peradangan hati pada tahap akhir yang kemungkinan tidak bisa dikembalikan lagi. Seseorang yang mengalami penya tersebut maka akan beresiko lebih besar mengalami gagal hati atau kanker hati. Tetapi, pada pengobatannya pun akan tetap dilakukan untuk menurunkan komplikasi serta mencegah organ hati yang semakin rusak. Pada beberapa jenis hepatitis yang tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan hati mengalami sirosis hati. Sementara jika sirosis hati tidak bisa ditangani dengan baik maka tim medis akan melakukan cangkok hati.

| Apa Sih Perbedaan Sirosis Hati dan Hepatitis?

Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

mengobatihepatitisbkronis.com – Tato adalah suatu seni menggambar pada tubuh dengan menggunakan tinta dan jarum khusus. Ketika membuat tato, tinta yang bersifat permanen kemudian dimasukkan pada lapisan kulit dengan menggunakan jarum. Dibalik keindahan tato, ternyata tato memiliki dampak yang cukup berbahaya bagi kesehatan yang tentu saja akan membuat anda berfikir dua kali untuk membuat tato pada tubuh.

dampak tato bagi kesehatan dan kulit

Tetapi resiko tato bukan hanya pada jenis tato yang dibuat sebagai hiasan tubuh saja, ternyata juga pada tato kosmetik seperti tato alis atau tato bibir. Pada umumnya dalam pembuatan tato dilakukan tanpa adanya bantuan anestesi atau obat bius, sehingga akan merasakan rasa sakit atau nyeri akibat dari tusukan jarum tersebut.

Yang harus diperhatikan yaitu infeksi pada tato, karena pada proses pembuatan tato dapat dilakukan secara bebas dan tidak semuanya memiliki prosedur tindakan yang memenuhi pada standar kesehatan. Mungkin saja pada jarum suntik tidak steril. Selain itu juga, apabila tidak disimpan dengan baik, maka tinta yang dimasukkan kedalam kulit akan terkontaminasi bakteri sehingga terjebak didalam kulit.

Terjadinya infeksi ditandai dengan timbul ruam berwarna merah di sekitar tato dan disertai dengan demam. Sedangkan pada infeksi yang lebih parah dapat terjadi demam yang tinggi,menggigil, berkeringat hingga merasa kedinginan. Kondisi tersebut membutuhkan obat antibiotik atau perawatan lain yang lebih intensif di rumah sakit.

Berikut Berbagai Resiko Tato Pada Kesehatan Tubuh

Terdapat beberapa jenis tinta tato yang bersifat toksis atau beracun. Bahkan ada juga yang mengandung zat karsinogen (pemicu kanker) serta tidak memenuhi standar keamanan internasional didalam komposisi tinta tersebut. Ada juga komponen yang tidak aman didalam tinta tato seperti barium, merkuri, tembaga, dan yang lainnya. Tinta tato yang mungkin akan menimbulkan reaksi alergi setelah membuat tato. Berikut beberapa dampak dari pembuatan tato :

1. Alergi

Meskipun tidak pada semua orang tidak mengalami hal ini, tetapi alergi dapat beresiko dan terjadi pada kulit yang ditato. Alergi yang disebabkan oleh adanya zat warna pada tinta yang digunakan untuk membuat tato. Reaksi ini biasanya akan muncul seperti gatal-gatal atau ruam pada kulit yang ditato.

2. Penyakit Hepatitis

Hepatitis merupakan salah satu penyakit yang bisa didapatkan saat membuat tato menggunakan jarum bekas. Bahkan selain menyebabkan penyakit hepatitis, anda juga akan tertular HIV AIDS.

3. Tetanus

Alat untuk membuat tato (seperti jarum) yang tidak steril akan menyebabkan terkena tetanus. Pada jarum yang tidak steril dan tidak disimpan dengan baik memungkinkan akan mengandung bakteri, sehingga pada akhirnya akan terkena infeksi.

4. Keloid

Kulit yang sudah ditato kemungkinan akan menimbulkan bekas luka yang melampaui batas normal. Hal ini dikarenakan oleh adanya pertumbuhan yang berlebihan pada jaringan parut ketika kulit ditato. Keloid akan menimbulkan masalah penampilan dibandingkan dengan kesehatan. Dan mungkin saja akan merasa terganggu dengan keloid yang besar dan berada pada tempat yang terlihat orang lain.

5. Dapat Mempengaruhi MRI (Magnetic Resinance Imaging)

Tinta yang berbahan dasar logam dapat menghambat proses pemeriksaan dengan melalui scan MRI. Pada beberapa kasus yang langka ini juga diketahui ada penderita yang mengalami luka besar akibat dari tato yang bereaksi dengan MRI. Selain itu juga, pigmen yang terdapat pada tato dapat mengganggu kualitas gambar yang diambil dan apabila tinta mengandung logam, warna tato juga akan memudar.

Itulah berbagai resiko tato, mulai dari infeksi hingga penyakit lain yang lebih berbahaya. Oleh karena itu sebaiknya untuk pertimbangkan kembali resiko-resiko tersebut sebelum membuat tato.

| Berbagai Resiko Bikin Tato Bagi Kesehatan Tubuh dan Kulit

Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Perlemakan hati non-alkohol adalah suatu kondisi yang terlalu banyak lemak dan tersimpan didalam sel-sel hati. Akan tetapi hal ini terjadi pada orang yang memang bukan peminum alkohol atau hanya minum sedikit alkohol. Perlemakan hati non-alkohol yang merupakan bentuk penyakit yang berpotensi cukup serius, dengan ditandai oleh peradangan hati berat (yang dapat berkembang menjadi luka dan juga kerusakan yang tidak dapat disembuhkan). Kondisi kerusakan ini hampir mirip dengan rusaknya hati yang disebabkan oleh pengguna minuman alkohol berat.

Pada kondisi perlemakan hati non-alkohol ini termasuk kondisi kronis. Saat ini penyakit perlemakan hati non-alkohol lebih umum terjadi yang dimana kasus obesitas atau kelebihan berat badan yang sekarang lebih umum terjadi di dunia.

definisi perlemakan hati non-alkohol

Apa saja jenis perlemakan hati non-alkohol?

Terdapat 4 jenis perlemakan hati non-alkohol dari mulai yang tidak berbahaya sampai yang mengancam nyawa, diantaranya :

  • Nonalcoholic Fatty Liver (NAFLD). Pada jenis ini termasuk jenis paling serius. Adanya lemak yang menumpuk didalam hati, tetapi tidak akan menyakiti Anda. Dan kondisi ini merupakan kondisi yang cukup umum untuk memiliki jenis penyakit hati berlemak non-alkohol saat ini.
  • Nonalcoholic Steatohepatitis (NASH). Jenis ini merupakan lemak yang menumpuk dan dapat menyebabkan peradangan pada hati. Sehingga akan merusak pada bagian hati dan menyebabkan luka serta mengurangi fungsi hati.
  • Perlemakan hati non-alkohol terkait sirosis. Kondisi peradangan hati ini dapat menyebabkan luka yang cukup parah pada jaringan dan mengalami gagal hati, bahkan liver tidak dapat berfungsi lagi.

 Artikel terkait : Obat Herbal Hati Berlemak

Penyebab Perlemakan Hati Non-alkohol

NAFLD merupakan salah satu sindrom metabolik yang ditandai dengan diabetes atau pra-diabetes (resistensi insulin), meningkatnya lemak darah seperti kolesterol dan trigliserida, kelebihan berat badan atau obesitas, serta tekanan darah tinggi. Tetapi tidak semua pasien akan mengalami manifestasi sindrom metabolik. Terdapat beberapa faktor yang mungkin berkaitan dengan berkembangnya NASH, diantaranya :

  • Tidak seimbangnya antara bahan kimia pro-oksidan dengan anti-oksidan yang dapat menyebabkan kerusakan sel hati (stres aoksidatif)
  • Nekrosis atau kematian sel hati yang disebut dengan apoptosis
  • Produksi dan pelepasan protein inflamasi yang beracun (sitokin) oleh sel inflamasi, sel-sel lemak, atau sel-sel hati.
  • Peradangan jaringan adipose (jaringan lemak) dan infiltrasi sel darah putih
  • Gut microbiota (bakteri usus) yang anggap sebagai penyebab peradangan hati.

Faktor yang dapat meningkatkan resiko terkena perlemakan hati non-alkohol, antara lain :

  • kolesterol tinggi
  • kadar trigliserida dalam darah tinggi
  • obesitas, jika lemak terkonsentrasi pada perut
  • sindrom metabolik
  • diabetes tipe II
  • sleep apnea
  • tiroid kurang aktif (hipotiroidisme)
  • kelenjar pituitary kurang aktif (hipoputuitarisme)
  • usia lanjut

Gejala perlemakan hati non-alkohol

  • Kelelahan dan lemas
  • Pembesaran hati
  • Berat badan menurun
  • Mual dan muntah
  • Sakit perut
  • Kulit dan mata menguning (jaundice)
  • Pembuluh darah seperti laba-laba
  • Gatal, terjadinya penumpukan cairan dan pembengkakan pada kaki (edema) dan abdomen (ascites)
  • Kebingungan

Sedangkan pada penderita perlemakan hati akut yang merupakan komplikasi kehamilan langka dan bahkan dapat mengancam nyawa. Berikut ini ada beberapa gejala awal trimester ketiga, diantaranya :

  • Mual dan muntah yang persisten
  • Nyeri perut pada bagian atas kanan
  • Malaise umum
  • Penyakit kuning

Sebagai pencegahan guna untuk mengurangi resiko penyakit perlemakan hati non-alkohol Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini :

  • mempertahankan berat badan
  • makan diet sehat
  • olahraga secara teratur
  • membatasi asupan alkohol
  • tidak mengonsumsi obat-obatan terlarang.

| Baca juga : 

| Definisi Penyakit Perlemakan Hati Non-Alkohol

Kenali Perbedaan Gejala Tipes dan Hepatitis

Hepatitis adalah salah satu masalah kesehatan umum yang sering terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan tipes adalah salah satu penyakit yang menular bahkan dapat mengancam kesehatan. Dari kedua penyakit ini sama-sama dapat disebabkan oleh kebersihannya yang kurang baik. Lalu apa perbedaan tipes dan hepatitis?

perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Hepatitis yang merupakan suatu kondisi peradangan yang terjadi pada sel-sel hati manusia yang dapat disebabkan oleh adanya infeksi seperti virus, bakteri, parasit, dan toksin, seringnya mengonsumsi minuman alkohol, obat-obatan dan penyakit autoimun. Pada penyakit hepatitis ini memiliki beberapa jenis berdasarkan virus yang menyerangnya diantaranya hepatitis A, B, C, dan E.

Masa inkubasi pada seseorang yang menderita penyakit hepatitis membutuhkan waktu yang berbeda-beda. Pada penyakit hepatitis A memerlukan masa inkubasi rata-rata sekitar 28 hari, hepatitis B 120 hari, sedangkan pada hepatitis C 45 hari. Lalu apa itu tipes?

Menurut CDC, tipes atau yang disebut dengan demam tifoid merupakan infeksi akut yang disebabkan oleh adanya bakteri Salmonella. Bakteri tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dengan melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Bakteri tersebut akan menyerang pada bagian usus halus manusia, kemudian akan berkembang biak serta menyebar. Untuk masa inkubasi atau masa timbulnya gejala sejak bakteri masuk kedalam tubuh, penderita penyakit tipes memerlukan waktu kurang lebih 14 hari.

Perbedaan gejala tipes dan hepatitis

Pada umumnya terdapat beberapa gejala yang sama antara tipes dan hepatitis, yaitu pusing, mual, muntah, demam, nafsu makan berkurang, dan nyeri perut. Tetapi ada gejala utama yang dapat membedakan tipes dan hepatitis yakni terjadinya penyakit kuning (jaundice) untuk penderita hepatitis.

Jaundice atau ikterus merupakan suatu kondisi yang dimana jaringan tubuh menjadi kekuningan yang disebabkan oleh menurunnya konsentrasi bilirubin pada cairan ekstraseluler pada seseorang yang menderita hepatitis. Sedangkan pada penyakit tipes tidak akan terjadi gejala seperti ini, tetapi dapat ditemukan seperti bintik-bintik berwarna merah muda area dada. Selain itu, biasanya pada penderita hepatitis akan memiliki gejala demam, sedangkan pada penderita tipes, suhu tubuh akan cenderung meningkat saat menjelang sore hati, dan akan menurun normal kembali pada pagi hari.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Perbedaan penyakit hepatitis dan tipes dari segi penularan penyakit

Penularan pada penyakit tipes dapat terjadi melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi Salmonella typhi. Pada makanan atau minuman tersebut terkontaminasi oleh lalat yang sebelumnya menempel pada muntahan ,urine, atau kotoran dari penderita tipes. Makanan yang masuk ke dalam saluran pencernaan manusia, pada sebagian kuman dari makanan tersebut mati oleh pengaruh asam lambung dan pada sebagiannya lagi akan masuk kedalam usus halus.

Kuman akan masuk kedalam kelenjar getah bening, pembuluh darah, bahkan ke seluruh tubuh terutama pada organ hati dan empedu sehingga air seni penderita tipes mengandung bakteri Salmonella yang akan mencemari manusia lainnya.

Penularan hepatitis bermacam-macam berdasarkan pada jenis virusnya. Pada hepatitis A dan E, cara penularannya hampir mirip dengan tipes yaitu pada umumnya terjadi karena pencernaan air minum, makanan yang tercemar, makanan yang tidak dimasak, kebersihan tubuh yang tidak terjaga, dan sanitasi yang buruk. Sedangkan pada hepatitis B cara penularannya 95% terjadi ketika persalinan (hubungan antara ibu dan anak). Akan tetapi juga dapat terjadi dengan melalui transfusi darah, pisau cukur, jarum suntik yang tercemar, tato, atau transplantasi organ. Sementara pad hepatitis C cara penularannya dapat terjadi dengan melalui darah dan cairan tubuh.

Pengobatan penyakit hepatitis dan tipes

Biasanya pada penyakit tipes akan diberikan obat anti biotik oleh dokter, sedangkan pada penyakit hepatitis tergantung pada jenis penyakit hepatitis yang diderita. Penyakit hepatitis A tidak terdapat pengobatan yang khusus, tetapi hanya diberikan pengobatan pendukung serta dijaga keseimbangan gizinya. Sedangkan untuk pengobatan hepatitis tipe B, C, dan D akan diberikan antiviral khusus dan interferon.

Berbagai Alasan Hepatitis B Mudah Menyebar di Indonesia

Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus. Virus tersebut akan menyerang pada organ hati sehingga akan menimbulkan penyakit akut dan kronis. Jumlah penderita penyakit hepatitis B di Indonesia terbilang sangat tinggi. Saat ini, Indonesia merupakan salah satu negara dengan penderita hepatitis terbanyak diantara 11 negara di Asia Tenggara. Menurut Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2017, terdapat 7,1% penduduk Indonesia yang diduga menderita penyakit Hepatitis B.

alasan hepatitis b mudah menyebar di indonesia

Semua orang beresiko tertular penyakit hepatitis B. Pada penyakit yang disebabkan oleh adanya virus ini dapat menyerang pada organ hati dan dapat ditularkan dengan melalui darah, cairan vagina, sperma, dan juga air liur.

Terdapat dua cara penularan hepatitis B, diantaranya :

1. Penyebaran Vertikal, yaitu dari seorang ibu yang mengidap virus hepatitis B pada bayi ketika persalinan.

2. Penyebaran Horizontal, yaitu dengan melalui tindakan yang memungkinkan perpindahan cairan tubuh (darah atau air mani) dari seseorang yang terkena infeksi pada tubuh orang yang sehat.

| Artikel terkait : Obat Hepatitis

Ada beberapa perilaku yang dapat memperbesar terjadinya resiko penyebaran horizontal, yaitu :

  • Melakukan hubungan seksual beresiko
  • Memakai dan berbagi jarum suntik yang tidak steril seperti tatto atau narkoba suntikan.
  • Berbagai penggunaan alat cukur atau sikat gigi dengan orang lain.

Tingginya jumlah penderita penyakit hati kronis dan mereka yang menjalani hemodialisa (cuci darah), dan mutasi genetik pada virus penyakit hepatitis B diduga memiliki peran dalam tingginya kasus hepatitis B di Indonesia. Pada sebagian besar masyarakat Indonesia tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi hepatitis B, sehingga saat didiagnosis, mereka kemungkinan mengalami kondisi yang sudah pada tingkat lanjut.

Upaya Mencegah Penyebaran Hepatitis B

Dengan melalui Kemenkes, ada beberapa hal yang harus dilakukan guna untuk menekan penyebaran hepatitis B, yaitu gerakan imunisasi hepatitis B pada bayi. Upaya yang dilakukan Kemenkes dengan melalui pendidikan dengan membuat buku pedoman mengenai pengendalian hepatitis, buku saku, poster, dan seminar mengenai hepatitis pada beberapa kota di Indonesia untuk bertugas kesehatan dan juga masyarakat. Selain itu juga, diadakan deteksi dini penyakit hepatitis B pada ibu hamil.

Ada beberapa upaya untuk pencegahan resiko penularan secara horizontal yang dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat, hal tersebut meliputi :

  • Mendapatkan vaksinasi hepatitis B
  • Menutup luka yang terbuka
  • Hindari berbagi permen karet
  • Jangan mengunyah makanan yang akan diberikan pada bayi
  • Pastikan jaruk ada dalam keadaan steril baik dalam pengobatan, membuat tatto, atau tindik telinga
  • Jangan berbagi alat cukur, alat manikur, sikat gigi, atau anting tindik dengan orang lain
  • Gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual
  • Pakailah sarung tangan saat akan menyentuh atau membersihkan cairan tubuh orang lain, ataupun benda pribadi orang lain, seperti pembalut, perban luka, dan kain atau handuk.
  • Bersihkan pada bagian yang terkena darah dengan cairan

Baca juga : Obat Herbal Hepatitis B Menggunakan Daun Sirsak

Apabila Anda bersentuhan atau mengalami kontak dengan darah atau cairan tubuh orang lain, terutama dengan orang yang menderita penyakit hepatitis B, sebaiknya untuk segera memeriksa pada dokter. Sedangkan untuk Anda yang mengalami infeksi virus hepatitis B, maka sebaiknya konsultasikan dengan dokter mengenai tindakan maupun tindakan guna untuk mencegah penyebaran secara lebih lanjut.

| Berbagai Alasan Hepatitis B Mudah Menyebar di Indonesia

Dampak Kelebihan Berat Badan Terhadap Kesehatan Hati

Untuk menjaga kesehatan hati, maka terdapat berbagai hal yang perlu diperhatikan, salah satunya adalah menjaga berat badan. Mengapa? Berikut ulasannya.

dampak kelebihan berat badan terhadap hati

Hati adalah salah satu organ tubuh yang sangat penting. Hati memiliki peran untuk menetralisir racun dalam tubuh, menyimpan kelebihan cadangan makanan dan juga vitamin, memproduksi protein, metabolisme dengan berbagai jenis bahan makanan dan obat yang masuk kedalam tubuh, serta membentuk cairan empedu. Apabila hati mengalami gangguan, maka terdapat fungsi hati yang akan terganggu sehingga akan berdampak terhadap kesehatan tubuh kita.

Untuk menjaga kesehatan organ hati, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, salah satunya yaitu menjaga berat badan. Karena kelebihan atau kekurangan berat badan akan berdampak pada kesehatan hati. Kelebihan atau kekurangan berat badan dapat terbukti menyebabkan perlemakan hati sehingga akan menyebabkan gangguan pada fungsi hati.

| Artikel terkait :

Perlemakan hati adalah adanya pengumpulan sel lemak yang berlebihan didalam hati, yaitu bisa mencapai lebih dari 5% berat hati. Kondisi ini merupakan salah satu gangguan hati kronis yang sering terjadi dikalangan masyarakat. Mengonsumsi alkohol dan obesitas merupakan penyebab umum terjadinya perlemakan hati. Dari berbagai penelitian juga membuktikan hubungan dari kelebihan berat badan dan juga perlemakan hati. Hal ini terjadi karena hati yang berfungsi sebagai salah satu tempat menyimpan kelebihan cadangan makanan. Sehingga seseorang yang memiliki berat badan lebih atau mengalami obesitas, maka kadar lemaknya akan disimpan didalam hati sehingga dapat menyebabkan perlemakan hati.

Tetapi, tidak hanya kelebihan berat badan saja yang dapat menyebabkan perlemakan hati, kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang lama juga dapat menyebabkan perlemakan hati. Selain itu kekurangan zat protein juga dapat menyebabkan penurunan sintesis suatu protein yang berperan sebagai pengikat dan membawa lemak yang ada pada darah. Akibatnya lemak dalam darah akan menumpuk didalam hati sehingga akan menyebabkan perlemakan hati.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan hati sangatlah penting dengan cara menjaga berat badan supaya tidak terlalu berlebihan atau malah terlalu kurang. Selain itu juga, hindari mengonsumsi minuman alkohol atau obat-obatan yang sudah jelas dapat membahayakan kesehatan tubuh. Sebaiknya untuk minum suplemen khusus untuk menjaga kesehatan tubuh termasuk hati. Dengan begitu kita dapat menjaga supaya hati dapat berfungsi dengan baik dan optimal.

| Dampak Kelebihan Berat Badan Terhadap Kesehatan Hati